3 Konsep Berpikir dalam Safety Maturity Model Sistem Manajemen K3

05 Mar 2017   Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Penulis : Dody Indra Wisnu   dilihat 2.344 kali

Dalam penerapan Sistem Manajemen K3 (SMK3), setiap perusahaan menjalankan berbagai elemen persyaratan yakni Penetapan Kebijakan K3, Perencanaan SMK3, Pelaksanaan SMK3, Pemeriksaan SMK3 dan Tinjauan Ulang serta Peningkatannya.

Safety Maturity Model atau tingkat kedesawaan perusahaan dalam menerapkan Sistem Manajemen K3 memiliki pendekatan konsep berpikir di dalam penilaian dan pengukurannya. Konsep berpikir tersebut terdiri dari 3 hal yaitu Sistem, Budaya dan Teknologi.

Sistem

Penerapan SMK3 tidak terlepas dari Sistem yang saling terkait satu sama lainnya. Sistem adalah arahan baku yang disusun untuk membantu seseorang dalam menjalankan suatu pekerjaan / aktivitas dengan tanpa kesalahan atau dengan kesalahan yang minimal.

Dari definisi tersebut, berarti sistem yang dibuat perusahaan dalam menerapkan SMK3 diupayakan agar mencegah seseorang terjadi kecelakaan maupun penyakit akibat kerja. Sistem tersebut dijalankan oleh semua orang yang bekerja atas nama perusahaan tanpa adanya turbulensi atau pelanggaran karena sistem yang dibuat merupakan bagian dari aktivitas keseharian. Fokus program K3 juga sudah mengarah kepada pembentukan budaya K3 dan perilaku aman di tempat kerja. 

Sistem yang dibuat memang terkadang tidak selamanya sempurna. Namun, pada tingkat Resilient di dalam Safety Maturity Model, sistem yang dibuat pun memiliki ketahanan yang baik. Artinya, setiap perubahan-perubahan harus diidentifikasi, ditindaklanjuti dan dievaluasi sebaik mungkin. Kelemahan terhadap sistem yang menyebabkan ketidakefektifan SMK3 dikarenakan sistem yang dibuat hanya sekedar untuk memenuhi persyaratan saja, dokumen belaka dan implementasi pun akan dilakukan ketika ada inspeksi dari konsumen dan audit dari pemerintah.

Budaya & Keterlibatan

Sistem Manajemen yang diterapkan dengan sangat baik akan dapat membantu perusahaan dalam menciptakan budaya. Dan hal ini pun juga sebaliknya, apabila budaya sudah terbentuk dengan baik, maka Sistem Manajemen pun akan menjadi lebih baik. Sistem Manajemen yang sudah dibuat dan diterapkan tersebut harus bersinergi dengan budaya perusahaan, agar tujuan dari Sistem Manajemen dapat tercapai.

Dalam konsep berpikir Safety Maturity Model, budaya terbentuk dari berbagai macam perilaku yang ada di perusahaan. Perilaku aman atau Safety Behavior merupakan perilaku yang utama untuk dapat membentuk Budaya K3 diperusahaan.

Keterlibatan oleh semua level merupakan kunci keberhasilan penerapan Sistem Manajemen K3. Banyak perusahaan yang sudah menerapkan Sistem Manajemen K3 hanya tergantung pada orang-orang tertentu. Misalnya saja Departemen K3 / EHS / HSE, dan lainnya. Sedangkan keterlibatan dari semua bagian dan level jabatan tidak ada. Padahal, penerapan Sistem Manajemen K3 ini diperuntukkan bagi semua orang yang bekerja atas nama perusahaan. Sejalan dengan konsep budaya, keterlibatan merupakan hal yang tidak terpisahkan. Sistem Manajemen yang baik maka keterlibatan semua bagian juga baik. 

Safety Maturity Model menjadikan Budaya dan Keterlibatan ini adalah sebagai penggerak Sistem Manajemen K3. Buruknya suatu budaya perusahaan dan tanpa ada keterlibatan semua bagian maka Sistem Manajemen K3 hanya diatas kertas saja. Tujuan utama penerapan Sistem Manajemen K3 tidak dapat tercapai.

Pengendalian (Control)

Agar penerapan Sistem Manajemen K3 dapat berhasil dan sesuai dengan tujuan maka organisasi harus dapat menjalankan program Identifikasi Bahaya dan Penilaian Risiko atau sering disebut IBPR. Dalam program IBPR tersebut organisasi menetapkan pengendalian bahaya sesuai dengan Hirarki Pengendalian.

Dengan menilai risiko kita dapat menentukan pengendalian bahaya yang akan ditetapkan. Dimulai dari Eliminiasi, Subtitusi, Rekayasa Teknik, Administrasi dan Alat Pelindung Diri. Pada Safety Maturity Model pengendalian bahaya yang dilakukan oleh organisasi dapat menentukan tingkat dari Safety Maturity Model itu sendiri. 

Sebagian organisasi menganggap bahwa menggunakan Alat Pelindung Diri sudah cukup untuk mengendalikan bahaya. Padahal, hirarki pengendalian bahaya ada beberapa tahapan (seperti yang disebutkan sebelumnya). Fokus organisasi dalam mengendalikan sebaiknya tidak hanya kepada penggunaan Alat Pelindung Diri, harus juga dipertimbangkan teknik pengendalian bahaya yang lain. Dengan tujuan agar setiap bahaya yang ada di tempat kerja dapat terkendali dan risiko dapat diterima.

Baca juga:

——

Sentral Sistem merupakan Konsultan Strategi Manajemen yang fokus pada Peningkatan Kinerja Perusahaan, yakni Kinerja Bisnis, Mutu, Produktivitas, Kesehatan Keselamatan Kerja (K3) dan Lingkungan. Servis lainnya berupa konsultasi dan training ISO 9001, ISO 14001, OHSAS 18001, IATF 16949, ISO 17025, ISO 13485, ISO 27001, ISO 50001, ISO 22000, GMP, AS 9100, AS 9120, dll. Hubungi kami di sini atau telepon 021-29067201-3.



Mendapat manfaat dari artikel ini? Klik like & share



Let's share this article



What do you think? Leave your comment here...

  • Problem Solving and Decision Making
    Jakarta, 20 Dec 2018
  • Setting Key Performance Indicator (KPI) And Develop Creative Action Plan To Achieve Your Target
    Bekasi, 19 Dec 2018
  • Optimize Risk Management To Improve Company
    Bekasi, 18 Dec 2018
  • Awareness & Internal Audit ISO 9001:2015 Sentral Sistem Consulting Desember 2018
    Bekasi, 18 Dec 2018 - 20 Dec 2018
  • Training Awareness & Internal Audit ISO 14001:2015 Sentral Sistem Consulting Desember 2018
    Jakarta, 18 Dec 2018 - 20 Dec 2018