Bahaya Psikososial, Jenis Bahaya yang Seringkali Terabaikan

10 Dec 2020   Lingkungan
Penulis : Marketing Sentral Sistem Consulting   dilihat 164 kali

Bahaya Psikososial, Jenis Bahaya yang Seringkali Terabaikan

Oleh : Tri Amdani Kumbasari

 

Di dalam Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No. 05 Tahun 2018 terkait Keselamatan dan Kesehatan Lingkungan Kerja diwajibkan bagi seluruh pengusaha dan atau pengurus untuk melaksanakan syarat-syarat Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) lingkungan kerja dimana syarat-syarat tersebut diatur dalam pasal 3 yaitu pengusaha diwajibkan untuk mengendalikan faktor-faktor fisika, kimia, biologi, ergonomi dan psikososial. Dalam ISO 45001:2018, Pasal 6.1.2 Faktor sosial (termasuk beban kerja, jam kerja, victimization, pelecehan dan intimidasi) menjadi hal yang perlu dipertimbangkan dalam identifikasi bahaya.

 

Beberapa perusahaan dalam identifikasi bahaya cenderung lebih fokus pada bahaya dari faktor fisik, kimia, dan biologi. Karena faktor-faktor tersebut lebih mudah diukur, dinilai, diidentifikasi dan ditetapkan pengendaliannya. Bahaya dari psikososial seringkali terabaikan, hal tersebut perlu menjadi perhatian setiap perusahaan mengingat bahaya psikososial juga memiliki risiko yang tinggi, bahkan dalam beberapa kasus bahaya psikososial dapat menimbulkan kasus kriminal seperti pembunuhan dan bunuh diri.

 

Faktor psikososial merupakan salah satu bahaya di tempat kerja yang kerap kali tidak disadari oleh para pekerja maupun pihak manajemen. Perlu diketahui bahwa pekerja sering mengalami situasi dan lingkungan kerja yang tidak kondusif, seperti bekerja dalam shift, beban kerja yang berlebih, bekerja monoton, mutasi dalam pekerjaan, tidak jelasnya peran kerja, serta konflik dengan teman kerja. Di perusahaan bisa saja semua perangkat sudah baik seperti mesin produksi yang sesuai standar dan lolos uji mesin, prosedur bekerja yang telah ditetapkan, peralatan keselamatan yang sudah disediakan dan karyawan yang kompeten. Akan tetapi ketika orang dengan gangguan psikososial bisa menyebabkan kecelakaan kerja akibat lose consentration.  Semua aspek tersebut merupakan beberapa faktor psikososial yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan fisik, mental maupun emosional para pekerja, seperti gangguan musculoskeletal (yaitu gangguan fungsi pada ligamen, otot, saraf, sendi dan tendon, serta tulang belakang), stres, penyakit psikomatis (yaitu keluhan fisik yang timbul atau dipengaruhi oleh pikiran atau emosi, bukannya oleh alasan fisik yang jelas),  yang menjadi penyebab meningkatnya penyakit akibat hubungan pekerjaan, dan yang paling serius dapat mengakibatkan kecelakaan kerja.

 

Pentingnya memahami bahaya psikososial yaitu untuk meminimalisir dampak buruk dari faktor psikososial di tempat kerja dan menentukan program apa yang tepat untuk mengendalikan bahaya psikososial. Agar K3 perusahaan dapat berhasil maka perusahaan juga harus mempunyai program untuk menghindari faktor psikososial. Koordinasikan dengan HRD untuk membuat program mengendalikan bahaya psikososial.

  1. Program Konseling

Adanya program konseling akan menyediakan ruang untuk karyawan yang memiliki risiko bahaya psikososial dengan memberikan kesempatan untuk menyampaikan ketidaksesuaian yang terjadi seperti perlakuan yang kurang adil dalam pembagian kerja, tugas dan tanggung jawab yang kurang jelas dan permasalahan dengan rekan kerja lain. Berikan dukungan/motivasi seperti menyadarkan karyawan bahwa masalah harus diterima dan harus diselesaikan.

  1. Sistem Reward

Untuk meningkatkan motivasi bagi pekerja serta menciptkan komunikasi lebih aktif antara manajemen dengan pekerja di tempat kerja, sebaiknya perusahaan mengupayakan sistem reward baik berupa materi maupun apresiasi terhadap hasil kerja. Reward diperlukan sebagai upaya untuk meningkatkan kepercayaan perkerja terhadap organisasi, sehingga pekerja menganggap dirinya memang pantas dan merasa memiliki peran penting di dalam organisasi.

  1. Penilaian Karyawan

Menyesuaikan kapasitas kerja karyawan dengan beban kerja dan kemampuan karyawan dengan jenis kerja yang dikerjakan merupakan sesuatu hal yang perlu diperhatikan. Misalnya, karyawan yang tidak memiliki kemampuan olah data dan pengoperasian komputer serta mudah bosan pada pekerjaan diam tidak cocok ditempatkan di pekerjaan administrasi atau area office. Begitu pula dengan karyawan yang tidak terbiasa dengan pekerjaan kasar, terlalu panas, atau aktivitas yang sering berdiri tidak cocok ditempatkan di area produksi. Maka perlu dilakukan penilaian karyawan dan persyaratan kompetensi pada setiap pekerjaan.

 

Nah, segera lakukan pengukuran, penilaian, identifikasi dan pengendalian pengendalian jenis Bahaya Psikososial ini dalam program K3 perusahaan Anda.

Stay Healthy, Stay Safe, Stay Happy ????

 

***

 

Bila ada pertanyaan seputar implementasi Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan Lingkungan (K3L), Identifikasi Bahaya Risiko, Aspek Dampak Lingkungan dalam Penerapan Sistem Manajemen K3L, Penetapan Potensi Bahaya Besar dan Menengah di Perusahaan, Audit Risiko dan Kinerja K3L, Membangun Perilaku K3, Safety Maturity, Audit Risiko dan Kinerja Lingkungan, Sistem Informasi Elektronik Lingkungan Hidup (SIMPEL),

Audit Proper, Sistem Manajemen Energi, Audit Energi, Konservasi Energi, Perhitungan Konversi Energi dan Program untuk Semakin Meningkatan Kinerja Lingkungan supaya perusahaan semakin efisien dalam beraktivitas dan tetap berkontribusi untuk lingkungan ataupun piha-pihak yang terkait dengan organisasinya, Yuk Langsung hubungi Marketing Sentral Sistem Consulting Hotline:

 

Silakan langsung menghubungi:

Marketing Sentral Sistem Consulting

Hotline : 0821 2121 9252

Instagram : @ssc.jkt

Facebook : Sentral Sistem Consulting



Mendapat manfaat dari artikel ini? Klik like & share



Let's share this article



What do you think? Leave your comment here...

  • Public Training Sistem Informasi Pelaporan Elektronik Lingkungan Hidup (SIMPEL)
    Cikarang, 17 Feb 2021 - 18 Feb 2021
  • Public Training - Calibration All Package
    Cikarang, 17 Feb 2021 - 19 Feb 2021
  • Virtual Training - Penyusunan Dokumen Lingkungan & Izin Lingkungan
    Jakarta, 11 Jun 2020
  • Virtual Training - Identifikasi Aspek Dampak Lingkungan
    Jakarta, 29 May 2020
  • OPEN DISCUSSION - QCC 7 TOOLS
    Jakarta, 14 May 2020