Filosofi Perubahan ISO 45001

05 Nov 2018   Kabar Sentral Sistem
Penulis : Imanuel Iman   dilihat 248 kali

Belajar memahami perubahan Sistem Manajemen K3 dari OHSAS 18001 ke ISO 45001, sebaiknya tidak fokus pada intepretasi pasal per pasal atau kalimat per kalimat dalam ISO 45001. Fokus pada intepretasi terkadang menimbulkan perbedaan pemahaman antar orang, seperti joke yang sering kita dengar : “Jika terkumpul beberapa ahli hukum membahas suatu undang-undang, maka akan muncul beberapa versi intepretasi yang berbeda”.

Belajar memahami perubahan ISO 45001 sebaiknya dilakukan dengan memahami filosofi perubahan, yang bisa dilakukan dengan cara :  

  1. Berusaha memahami persyaratan ISO 45001 secara menyeluruh. Sering kali satu pasal saling terkait atau dikuatkan dengan pasal yang lainnya.
  2. Kita harus memahami basic filosofi dari perkembangan sistem saat ini, misalnya sistem saat ini sudah beralih dari pengendalian bahaya ke pencegahan bahaya
  3. Harus mencoba memahami pola pikir atau reason behind atau alasan dari keluarnya suatu persyaratan.

Menggunakan cara belajar dengan memahami filosofi perubahan ISO 45001, akan bisa meningkatkan pemahaman kita akan benefit (keuntungan) dari penerapan suatu persyaratan, membantu kita untuk berani berkreasi menciptakan suatu sistem tanpa takut melanggar suatu persyaratan, dan yang lebih penting lagi : dapat meningkatkan motivasi perusahaan untuk melakukan perubahan Sistem Manajemen K3.

Untuk bisa lebih memahami maksud belajar filosofi perubahan ISO 45001, saya mencoba merangkum  perubahan Major pada ISO 45001 dengan sistem pendekatan basic filosofi.

  1. Tuntutan bisnis saat ini menuntut perusahaan untuk bisa balance (seimbang) dalam Bisnis, K3, Lingkungan, Mutu, GSCG (Good Corporate Governance). Pada prinsipnya semua sistem menuntut hal yang sama. Menuntut Kebijakan, menuntut adanya Sasaran, program kerja, prosedur pengendalian, dll. Yang berbeda hanya subyeknya saja. ISO 9001 menuntut kebijakan mutu, ISO 14001 kebijakan lingkungan, ISO 45001 kebijakan K3.

Oleh karena itu Organisasi ISO menyusun High Level Structure sebagai acuan dalam pembuatan segala jenis Standard Sistem Manajemen. Baik ISO 9001, ISO 14001, ISO 45001, dan standard manajemen lainnya harus menginduk ke high level structure yang telah ditetapkan. Dengan pendekatan pasal yang sama, maka  perusahaan bisa lebih mudah dalam melakukan integrasi sistem. Jadi, Buatlah satu kebijakan yang mengandung unsur bisnis, mutu, K3, Lingkungan, GCG dan  unsur lainnya sesuai kebutuhan perusahaan. Demikian juga dengan sasaran, prosedur, manajemen review, dll. Jika bisa diintegrasikan kenapa harus dibuat terpisah-pisah ?

Untuk pembahasan terkait sistem integrasi, saya akan membahasnya dalam tulisan “Konsep Integrasi Sistem”

  1. Tuntutan akhir dari penerapan suatu sistem adalah kinerja, bukan compliance. Jika kita sudah menerapkan prosedur 100% tetapi outputnya masih bermasalah, maka sistem dikatakan masih belum efektif. Pembahasan masalah ini akan saya ulas di artikel lain “Ukuran efektifitas sistem adalah Kinerja”
  1. Saat ini sistem telah berkembang tindakan setelah masalah, beralih ke pencegahan. Perusahaan diarahkan untuk membuat sistem yang bersifat pencegahan. Itulah sebabnya semua sistem sekarang ini difokuskan ke risk management. Apakah HIRADC atau identifikasi bahaya dan risiko sudah bisa mewakili penerapan risk management ? tentu saja belum, masih banyak faktor risk lain yang perlu di penuhi selain HIRADC.

Untuk lebih memahami tentang risk management, Anda bisa menonton video singkat tentang risk manajemen berikut: 

  1. Sebelum membuat sistem, perusahaan harus terlebih dahulu memahami issue internal, issue eksternal, tuntutan dan harapan pihak terkait. Pasal 4, merupakan input dalam membuat sistem. Tujuannya : supaya perusahaan terus mengikuti perkembangan jaman. Perusahaan harus peka dalam memahami perubahan internal, eksternal dan juga perubahan tuntutan dan harapan dari pihak terkait.

Untuk lebih detil terkait issue internal, eksternal, tuntutan dan harapan pihak terkait, saya akan membahasnya dalam artikel “Memahami Issue Internal, Eksternal, tuntutan dan harapan dari pihak terkait”

Saya menyarankan untuk perusahaan terlebih dahulu belajar tentang Risk Management untuk bisa lebih mudah memahami basic dasar dari sistem yang sudah beralih dari action after problem ke prevention. Untuk lebih mudahnya memahami tentang Risk Management ikuti Seminar Integrated Risk Management for ISO 9001, ISO 14001 & ISO 45001.

  1. Sesuai dengan perkembangan sistem yang lebih ditekankan pada prevention (pencegahan), maka spirit pencegahan sangat kental di tekankan pada ISO 45001, terdapat beberapa pasal yang menekankan pada kegiatan pencegahan.
    1. Dimulai dari penetapan Kebijakan (pasal 5.1.d) yang mengharuskan kebijakan Perusahaan mengandung Komitment untuk MENCEGAH BAHAYA DAN MEMINIMALKAN RISIKO K3
    2. Operational control (pasal 8.1.2) dengan penekanan pada MENGHILANGKAN BAHAYA dan MENGURANGI RISIKO K3. Ada penekanan pada menghilangkan bahaya bukan sekedar mengendalikan bahaya.
    3. Penjelasan detil tentang proses change (pasal 8.1.3), proses baru maupun perubahan memiliki potensi masalah yang relatif lebih tinggi karena pekerja belum terbiasa.
    4. Saling memahami, saling menjaga antara perusahaan dengan kontraktor yang bekerja pada area yang sama (pasal 8.1.4.2.). Contractor tidak lagi hanya sekedar menjadi object.
  1. Porsi penjelasan lebih detil terkait pengendalian terhadap perubahan yang terjadi di perusahaan (change management). Secara data statistik, pekerjaan baru maupun perubahan memiliki tingkat ketidakpastian yang lebih tinggi. Ketidakpastian sebagai akibat dari proses penyesuaian terhadap sesuatu yang baru atau sesuatu yang berubah. ISO 45001 memberikan penjelasan yang cukup detil mengenai Change management (5.3,1) yang terdiri dari perubahan operation (pasal 5.3.1.a), perubahan peraturan (pasal 5.3.1.b), perubahan pengetahuan (5.3.1.c), perkembangan pengetahuan dan teknologi (pasal 5.3.1.d)
  1. Penekanan yang sangat kuat pada Konsultasi dan Partisipasi. Banyak pasal pada ISO 45001 berbicara masalah konsultasi dan partisipasi.
    1. DIMULAI DARI KEBIJAKAN yang harus berisi komitmen untuk konsultasi dan partisipasi (Pasal 5.2.f)
    2. KEPEMIMPINAN DAN LEADERSHIP. Terdapat 2 point yang terkait dengan konsultasi dan partisipasi
      1. Melindungi pekerja dari tindakan balas dendam saat melaporkan insiden, bahaya, risiko dan peluang (pasal 5.1.k)
      2. Menetapkan dan menerapkan proses untuk konsultasi & partisipasi pekerja (pasal 5.1.i)
    3. PELAKSANAAN
      1. Menetapkan mekanisme, waktu, pelatihan dan sumberdaya yang diperlukan untuk pelaksanaan konsultasi dan partisipasi. (Pasal 5.4.a)
      2. Memberikan akses yang relevan tentang sistem manajemen K3. (pasal 5.4.b)
      3. Menyingkirkan dan menghilangkan rintangan atau hambatan untuk berpartisipasi. (pasal 5.4.c)
      4. Konsultasi dan partisipasi terhadap pekerja yang langsung terlibat termasuk pekerja non-manajerial terkait (pasal 5.4.d & e). Ada penekanan bahwa partisipasif lebih difokuskan kepada pekerja langsung !!
    4. MELIBATKAN PEKERJA DALAM INVESTIGASI DAN PELAKSANAAN CORRECTIVE ACTION (pasal 2.b)
    5. DALAM MANAJEMEN REVIEW, salah satu agenda yang harus dibahas adalah partisipasi pekerja. (pasal 9.3.d.5)
    6. HINGGA KE PASAL IMPROVEMENT, mempromosikan budaya K3 (Pasal 10.3.b), mempromosikan partisipasi pekerja (pasal 10.3.c), termasuk mengkomunikasikan hasil peningkatan berkelanjutan kepada pekerja (pasal 10.3.d)

Untuk mengoptimalkan proses partisipasi pekerja, kami menyarankan Perusahaan belajar tentang BBS (Behaviour Based Safety)

  1. Penekanan pada Emergency Preparedness. Keberhasilan dalam mengurangi dampak saat terjadi suatu insiden akan sangat dipengaruhi dari kesiapan perusahaan dalam menghadapi Insiden. Semakin baik Emergency Preparedness suatu perusahaan, maka semakin baik pula kemampuan perusahaan untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan dari suatu insiden. Contoh sederhananya, jika suatu daerah siap dalam menghadapi bencana tsunami, tentunya dampak yang ditimbulkan dari bencana tsunami bisa ditekan. Penekanan pada Emergency Preparedness ditekankan pada pasal 8.2. Pasal ini juga meminta adanya keterlibatan dari pihak terkait dalam menyusun emergency prepadness  

    

Semoga tulisan ini bisa memberi inspirasi untuk kita belajar lebih ke filosofi atau dasar dari perubahan suatu persyaratan, yang tentunya ditujukan untuk bisa membuat sistem manajemen K3 pada perusahaan menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Akhir kata, jika perusahaan melakukan upgrade ke ISO 45001, namun hasilnya hanya sekedar revisi dokumen tanpa adanya peningkatan kinerja K3, berarti ada yang ........................... , Anda tentunya paham apa isi dari titik-titik tersebut :)

 

Salam

Imanuel Iman

Managing Partner Sentral Sistem Consulting

 

Sentral Sistem Consulting merupakan konsultan strategi manajemen yang fokus pada peningkatan kinerja perusahaanHubungi kami DISINI untuk pelaksanaan Training dan Konsultasi Peningkatan kinerja perusahaan.

 

Untuk informasi public training dan seminar, klik SCHEDULE 

 



Mendapat manfaat dari artikel ini? Klik like & share



Let's share this article

What do you think? Leave your comment here...

  • Optimize Risk Management To Improve Company
    Bekasi, 18 Dec 2018
  • Integrated Risk Management for ISO 9001, ISO 14001 & ISO 45001
    Bekasi, 05 Dec 2018
  • Optimize Company Inventory Management System
    Bekasi, 04 Dec 2018
  • Setting Key Performance Indicator (KPI) And Develop Creative Action Plan To Achieve Your Target
    Bekasi, 27 Nov 2018
  • Awareness & Internalaudit ISO 9001:2015 Sentral Sistem Consulting November 2018
    Bekasi, 27 Nov 2018 - 29 Nov 2018