Kesalahan Umum Dalam Perencanaan Program Pemantauan Lingkungan

10 Jul 2018   Lingkungan
Penulis : Cahyadi   dilihat 163 kali

Kepedulian lingkungan yang meningkat, membuat Perusahaan saat ini sudah lebih peduli terhadap lingkungan. Banyak perusahaan memasukkan kebijakan lingkungan mereka untuk menjadi salah satu pilar dari strategi bisnis perusahaan. Perusahaan menetapkan bahwa bisnis perusahaan tidak boleh mencemari lingkungan. Lalu bagaimana memastikan bahwa bisnis perusahaan tidak mencemari lingkungan? Bagaimana perusahaan merencanakan pemantauan dan pengukuran kinerja lingkungan? Apakah perusahaan sudah menetapkan rencana pemantauan kinerja lingkungan secara tepat?

Kurangnya pemahaman mengenai cara mengelola dan memantau kualitas lingkungan menyebabkan kesalahan dalam penetapan perencanaan dan pelaksanaan pemantauan kualitas lingkungan.

  • Kesalahan dalam penetapan titik pengukuran dapat berdampak pada pencemaran yang terjadi walaupun perusahaan telah secara rutin melakukan pemantauan lingkungan.
  • Kesalahan dalam menetapkan rencana pemantauan dan pengukuran dapat juga menyebabkan kesalahan menyimpulkan efektifitas pengelolaan lingkungan. Parameter lingkungan sudah sesuai namun kenyataanya masih terjadi pencemaran lingkungan

Berikut ini adalah pemasalahan umum yang biasa terjadi dalam perencanaan program pemantauan:

  1. Kesalahan penetapan parameter yang perlu diukur / diuji,

Kesalahan dalam penetapan parameter lingkungan yang perlu diuji, sering ditemukan adanya beberapa parameter penting yang tidak masuk dalam daftar pengukuran yang perlu dilakukan. Misalnya emisi dari mesin yang tidak bergerak seperti genset, atau pompa.

Untuk menghindari kesalahan ini, Perusahaan dapat melakukan hal sebagai berikut :

  1. Melakukan review seluruh kegiatan operasional perusahaan yang menjadi sumber pencemar lingkungan
  2. Menetapkan besaran dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan
  3. Menggunakan referensi Peraturan Perundangan dan Persyaratan lainnya seperti peraturan pemerintah, peraturan daerah provinsi, kab / kota, dan kawasan industry (jika berada dalam kawasan industri) yang mengatur mengenai kewajiban pengukuran dan standar bakunya.
  1. Kesalahan penetapan jumlah titik sampling atau hanya melakukan pengukuran di titik buangan akhir

Kesalahan yang selanjutnya adalah kesalahan dalam penetapan titik sampling (lokasi uji). Kesalahan penetapan lokasi sampling biasanya terjadi karena perusahaan tidak mengidentifikasi secara detil aspek dan besaran dampak dari semua aktivitas dan kegiatan dari operasional perusahaan, misalnya : Penetapan titik pengukuran sampel hanya di akhir proses, sebenarnya pengukuran seperti ini secara peraturan sah-sah saja. Namun ketika hasilnya tidak sesuai, kita akan mengalami kesulitan untuk menganalisa penyebabnya. Sumber mana yang menjadi penyumbang terbesar atas pencemaran ? titik proses pengolahan mana yang gagal dalam melakukan proses pengolahan bahan pencemar.

  1. Kesalahan dalam menetapkan periode pemantauan kualitas linkungan.

Kesalahan dalam menetapkan periode pengambilan sampel uji. Misalnya :

  • Hanya mengacu pada ketetapan peraturan, misalnya 6 bulan sekali. Rentang jarak pengukuran yang jauh bisa berdampak pada penyimpangan yang tidak terdeteksi. Misalnya terjadi masalah pada bulan ke 3, karena pengukuran baru dilakukan di bulan ke 6, maka perusahaan telah melakukan pencemaran sejak bulan ke 3. Oleh karena itu Perusahaan bisa saja melakukan cek antara untuk memastikan kualitas lingkungan terpenuhi
  • Menggunakan acuan yang kurang tepat, sebagai contoh aturan Menteri Lingkungan Hidup yang berlaku untuk perusahaan diluar kawasan atau aturan kawasan untuk perusahaan didalam kawasan yang mewajibkan perusahaan untuk melakukan pengujian kualitas air limbah domestik 1 bulan sekali, namun perusahaan hanya melakukan pengukuran 6 bulan sekali.
  1. Melakukan pengukuran lingkungan bukan pada saat beban maksimal

Melakukan pengukuran lingkungan bukan pada saat beban maksimal. Misalnya : melakukan pengukuran cerobong saat mesin tidak beroperasi secara maksimal, misalnya hanya 50% yang sedang beroperasi. Karena hanya 50% yang beroperasi maka tentu saja beban pencemar menjadi lebih sedikit, jadi wajar saja jika hasil pengukuran menunjukkan hasil yang sudah baik. Contoh sederhananya adalah melakukan pengukuran kualitas udara di daerah SCBD pada saat hari minggu.

Berdasarkan uraian diatas diharapkan perusahaan dapat melakukan pemantauan kualitas lingkungan secara efektif, pengukuran yang didasarkan atas jenis aktivitas dan kegiatan serta besaran dampak yang ditumbulkan, tidak sekedar melakukan pengukuran untuk mengugurkan kewajiban.

Goals akhir dari pemantuan kualitas lingkungan: SETIAP SAAT, KAPANPUN PENGUKURAN DILAKUKAN  OPERATIONAL PERUSAHAAN TIDAK MENCEMARI LINGKUNGAN. Pemenuhan standard baku saat pelaksanaan kewajiban pengukuran hanya merupakan efek samping

 

Sentral Sistem Consulting merupakan konsultan strategi manajemen yang fokus pada peningkatan kinerja perusahaanHubungi kami DISINI untuk pelaksanaan Training dan Implementasi Kesalahan Umum dalam Perencanaan Program Pemantauan Lingkungan

Untuk informasi public training dan seminar, klik SCHEDULE 



Mendapat manfaat dari artikel ini? Klik like & share



Let's share this article

What do you think? Leave your comment here...

  • Optimize Company Inventory Management System
    Bekasi, 13 Nov 2018
  • Setting Key Performance Indicator (KPI) And Develop Creative Action Plan To Achieve Your Target
    Bekasi, 06 Nov 2018
  • Optimize Risk Management To Improve Company
    Bekasi, 16 Oct 2018
  • Integrated Risk Management for ISO 9001, ISO 14001 & ISO 45001
    Bekasi, 09 Oct 2018
  • Knowledge Sharing Tips Penyusunan & Pelaporan Dokumen Lingkungan Hidup 04 Oktober 2018
    Karawang, 04 Oct 2018