Sertifikasi Kayu dalam Penerapan Life Cycle Management Sesuai ISO 14001:2015

22 Jan 2017   Lingkungan
Penulis : Cahyadi   dilihat 1.704 kali

Life Cycle Management (LCM) merupakan konsep, teknik atau prosedur berkaitan dengan pengelolaan dan perbaikan aspek lingkungan secara terintegrasi, menyeluruh, dan berkelanjutan sepanjang daur hidupnya. Pada tahun 2015, International Standart of Organization (ISO) mengeluarkan standar Sistem Manajemen Lingkungan (ISO 14001:2015) yang didalamnya tercantum sistem untuk mengendalikan aspek dampak lingkungan berdasarkan perspektif “life cycle”. Sistem Manajemen Lingkungan (ISO 14001:2015) mengharapakan pengendalian aspek dampak lingkungan harus didasarkan pada perspektif siklus hidup mulai dari eksploitasi bahan baku, proses produksi dan penggunaan produk sampai pada tahap pengelolaan sampah atau limbahnya (from cradle to grave).

Dalam penerapan Sistem Manajemen Lingkungan, pengelolaan aspek dan dampak masih sebatas pengendalian terhadap sampah atau limbah dan belum terfokus pada aspek dan dampak terhadap penggunaan sumber daya alam (terbarui dan tidak dapat diperbarui). Penggunaan sumber daya alam dalam kegiatan industri biasanya digunakan sebagai bahan baku dan bahan pendukung dalam proses produksi. Salah satu sumber daya alam yang biasa dijadikan bahan baku dan atau bahan pendukung dari kegiatan industri adalah pohon (kayu).

Sumber daya pohon (kayu) biasa digunakan sebagai bahan baku utama dalam industri kertas, karton, dan kardus. Hampir semua industri menggunakan sumberdaya kayu yang sudah menjadi produk seperti kardus, kertas, karton dan lainnya sebagai bahan pendukung seperti kardus untuk proses packaging (pengepakan). Namun, pengelolaan terkait penggunaan sumber daya kayu masih belum dikendalikan secara efektif, sekalipun perusahaan tersebut sudah menerapkan Sistem Manajemen Lingkungan. Beberapa perusahaan belum mempersyaratkan kepada supplier yang menyuplai kardus / karton untuk memiliki sertifikasi kayu. Hal tersebut berguna untuk mencegah terjadinya pembalakan liar (illegal logging) sehingga banyak produk kayu di pasar ekspor dan domestik merupakan kayu ilegal.

Sistem sertifikasi kayu memberikan banyak benefit bagi semua pihak. Bagi perusahaan akan membuka peluang pasar. Perusahaan yang belum bersertifikat, mereka hanya dapat masuk pasar lokal, setelah mendapatkan sertifikat, mereka mempunyai peluang untuk mengekspansi produk-produk mereka ke pasar ekspor. Sejauh ini negara-negara yang menetapkan proses sertifikasi kayu adalah Uni Eropa dengan kebijakan European Union Timber Regulation (EUTR), dan Amerika Serikat (AS). Saat ini Jepang dan Australia juga sedang menetapkan adanya kayu bersertifikat.

Standar sertifikasi hutan pihak ketiga disediakan pertama kali oleh FSC (Forest Stewardship Council) di tahun 1993. Saat ini, terdapat lebih dari 50 program sertifikasi di seluruh dunia yang mencakup berbagai jenis hutan dengan masa berlaku yang berbeda-beda. Dua program sertifikasi hutan internasional terbesar yaitu Forest Stewardship Council (FSC) dan Programme for the Endorsement of Forest Certification (PEFC). Di Indonesia, sistem sertifikasi kayu yang bersifat mandatori (wajib) dilakukan oleh Departemen Kehutanan dalam program Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) yang pelaksanaannya berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan No. P.33/Menhut-II/2012 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.40/Menhut-II/2010. Berikut beberapa contoh logo dan sertifikat kayu yang dimiliki oleh perusahaan yang ada di Indonesia.

Logo FSC pada produk dan Sertifikat Kayu dari PEFC

Selain benefit adanya pasar yang makin meluas, keuntungan lainnya yaitu adanya perbaikan citra perusahaan atau citra industri bahwa mereka mempunyai sebuah kepedulian. Sedangkan bagi pembeli, ketika memanfaatkan adanya produk-produk yang bersertifikat, secara tidak langsung sudah berkontribusi terhadap proses perbaikan lingkungan. Dengan memanfaatkan produk bersertifikat, secara tidak langsung telah mendukung adanya proses pengelolaan bahan baku secara lestari.

Kemudian untuk menerapkan ISO 14001:2015, organisasi diminta untuk mengelola seluruh aspek dampak lingkungannya berdasarkan life cycle perspektif yang salah satunya adalah mengelola penggunaan sumberdaya alam seperti kayu sebagai bahan baku dan pendukungnya. Perusahaan yang mendapatkan sertifikasi COC FSC maka produk yang dihasilkan akan bisa bersaing dengan produk-produk mancanegara.

Baca juga:

——

Sentral Sistem merupakan Konsultan Strategi Manajemen yang fokus pada Peningkatan Kinerja Perusahaan, yakni Kinerja Bisnis, Mutu, Produktivitas, Kesehatan Keselamatan Kerja (K3) dan Lingkungan. Servis lainnya berupa konsultasi dan training ISO 9001, ISO 14001, OHSAS 18001, IATF 16949, ISO 17025, ISO 13485, ISO 27001, ISO 50001, ISO 22000, GMP, AS 9100, AS 9120, dll. Hubungi kami di sini atau telepon 021-29067201-3.



Mendapat manfaat dari artikel ini? Klik like & share



Let's share this article



What do you think? Leave your comment here...

  • Optimize Company Inventory Management System
    Bekasi, 13 Nov 2018
  • Setting Key Performance Indicator (KPI) And Develop Creative Action Plan To Achieve Your Target
    Bekasi, 06 Nov 2018
  • Optimize Risk Management To Improve Company
    Bekasi, 16 Oct 2018
  • Integrated Risk Management for ISO 9001, ISO 14001 & ISO 45001
    Bekasi, 09 Oct 2018
  • Knowledge Sharing Tips Penyusunan & Pelaporan Dokumen Lingkungan Hidup 04 Oktober 2018
    Karawang, 04 Oct 2018