Butuh bantuan? Chat dengan kami via WhatsApp

About Us

Sentral Sistem Consulting was founded in 1999. Until now, Sentral Sistem has continued to develop into a consultant that focuses on increasing Performance through Human Resources Capacity Improvement and Business Process Automation.

Our Services

After 20th we still continue to providing more solution for you to meet the future's challenge

Why Us

Tailor Made

We never use same standard for each company. Every company is unique. Then, we always develop custom method.

Five Pillars of Transformation

We blend five basic foundations of transformation: Knowledge, Mindset, automation, people development, and Management improvement

No Success, No Pay

you only pay if we success improve your company

Delivered and Taught by Experts

Our consultant not only expert in knowledge, but also have intensive experience in practical

Free Consultation Program

Your benefit is more than your expense! And it's proven by exact agress calculation

What's new on sentral sistem?

Uji Kelayakan (Due Diligence) pada Proses Penerimaan Karyawan dalam Penerapan ISO 37001:2016

Isu korupsi menarik perhatian dunia karena meningkatnya kasus korupsi yang melibatkan sektor pemerintah dan swasta. Menurut data dari World Bank, sekitar USD 1 triliun suap dibayarkan setiap tahunnya di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Berbagai kasus korupsi yang dilakukan oleh penyelenggara negara, pejabat BUMN, hingga korporasi menjadi catatan buruk bagi Pemerintah Indonesia. Berdasarkan data yang berasal dari KPK, dari tahun 2004 hingga Juni 2019, jenis korupsi yang mendominasi (sekitar 65%) di Indonesia adalah tindak penyuapan. Pengertian Penyuapan Penyuapan adalah aktivitas yang dilakukan oleh organisasi atau personel dalam menawarkan, menjanjikan, memberikan, menerima, atau meminta keuntungan yang tidak semestinya dari nilai apa pun. Keuntungan tersebut dapat berupa keuangan atau non-keuangan (seperti hadiah, jabatan, dll) secara langsung atau tidak langsung, terlepas dari lokasi. Tindakan penyuapan merupakan pelanggaran perundang-undangan, berupa bujukan atau hadiah untuk orang yang bertindak atau menahan diri untuk bertindak terkait kinerja dari tugas orang tersebut. Penyuapan dalam Bentuk Non-Keuangan Kejadian penyuapan yang paling sering menjadi perbincangan masyarakat umumnya terkait dengan keuangan. Padahal, dalam penerapannya, penyuapan sering kali diberikan dalam bentuk non-keuangan, seperti kenaikan pangkat, pemberian jatah kepada keluarga atau kerabat untuk dapat bekerja di perusahaan tersebut, atau melalui berbagai kebijakan lainnya. Salah satu proses yang kemungkinan sering kali menjadi tempat terjadinya penyuapan di perusahaan adalah terkait dengan proses penerimaan karyawan. Beberapa kasus menunjukkan kejadian penyuapan yang bertujuan memberikan privilege khusus kepada individu tertentu agar dapat diterima di perusahaan, baik dengan atau tanpa melalui proses sesuai dengan prosedur dan/atau peraturan yang berlaku. Tonton juga: Pengendalian Risiko Penyuapan Ordal dalam Proses Rekrutmen Sistem Manajemen Anti Penyuapan (ISO 37001:2016) Untuk mengendalikan risiko penyuapan dalam proses penerimaan karyawan, perusahaan dapat menerapkan Sistem Manajemen Anti Penyuapan (ISO 37001:2016) sebagai seperangkat elemen yang saling berhubungan dan berinteraksi dalam suatu organisasi untuk mengarahkan dan mengendalikan kegiatan organisasi. Ini mencakup penyusunan, penetapan, dan implementasi kebijakan, tujuan, dan proses sebagai langkah-langkah pencegahan penyuapan. Dalam persyaratan tersebut, khususnya pada klausul 7.2.2 (Proses Penerimaan Karyawan), sehubungan dengan risiko penyuapan yang diidentifikasi dalam penilaian risiko penyuapan (merujuk pada klausul 4.5), perusahaan harus menerapkan prosedur yang mencakup Proses Uji Kelayakan (merujuk pada klausul 8.2) yang dilakukan pada individu sebelum mereka dipekerjakan, dan pada personel sebelum dipindahkan atau dipromosikan dalam organisasi. Tujuannya adalah memastikan sejauh mana hal ini dapat diterima dan tepat untuk memastikan bahwa mereka akan mematuhi kebijakan anti penyuapan serta persyaratan sistem manajemen anti penyuapan. Dalam prosesnya, uji kelayakan (due diligence) penerimaan karyawan dalam penerapan Sistem Manajemen Anti Penyuapan (ISO 37001:2016) disesuaikan dengan bisnis dan operasional perusahaan. ISO 37001:2016 tidak mengatur secara rinci poin-poin atau persyaratan yang perlu dilakukan dalam proses uji kelayakan (due diligence), khususnya untuk karyawan baru. Di beberapa perusahaan, penerapan due diligence dapat dilakukan sejak tahap seleksi berkas (administratif) hingga wawancara. Proses uji kelayakan (due diligence) juga dapat melibatkan pengumpulan informasi dari calon karyawan, termasuk pengumpulan data diri, wawancara selama proses seleksi, dan penelusuran informasi dari berbagai sumber seperti media sosial calon karyawan (Instagram, LinkedIn, Facebook, dan lainnya). Contoh Penilaian Uji Kelayakan Penerimaan Karyawan Baru Berikut merupakan beberapa persyaratan yang biasanya dijadikan dasar penilaian dalam uji kelayakan (due diligence) saat proses penerimaan karyawan baru. Tabel 1. Form Due Diligence Penerimaan Karyawan *** Divisi HSE Sentral Sistem Consulting siap melayani Anda untuk memberikan konsultasi lingkungan dan membantu Penyusunan Dokumen Persetujuan Lingkungan, SIMPEL, KLHK, Persetujuan Teknis Lingkungan, PROPER, dan Program Safe and Save (Program Improvement Lingkungan untuk Safe untuk lingkungan dan Save dari pengeluaran biaya lingkungan). Kami juga siap membantu mengadakan in house training di perusahaan Anda tentang SMK 3 PP 50 Tahun 2012, ISO 14001, ISO 45001, dan ISO 37001. Info lebih lanjut hubungi :  WA/Telp: 0821-2121-9252 (Marketing) Email: marketing@sentralsistem.com Instagram: @sentral.sistem LinkedIn: Sentral Sistem Consulting Facebook: Sentral Sistem Consulting  

MEMAHAMI PART VARIATION PADA STATISTICAL PROCESS CONTROL (SPC)

Pada Statistical Process Control (SPC), part variation merujuk pada variasi yang terjadi dalam suku cadang/part selama berlangsungnya proses produksi. SPC adalah metode yang digunakan untuk memantau, mengukur, dan mengendalikan proses produksi dengan tujuan memastikan kualitas produk agar konsisten terhadap spesifikasi produk yang ditetapkan tanpa adanya variasi yang signifikan. Penyebab Terjadinya Variasi Variasi ini dapat terjadi karena berbagai faktor, termasuk perbedaan dalam dimensi, berat, bentuk, atau karakteristik fisik/kimia lainnya dari bagian-bagian yang seharusnya sama. Dalam SPC, part variation dianalisis dan dimonitor dengan menggunakan alat dan teknik statistik, seperti diagram kontrol, histogram, dan analisis data lainnya. Teknik SPC, seperti diagram peta kendali (control charts), memungkinkan pengendalian proses dengan mengidentifikasi pola dan tren yang mungkin menunjukkan kehadiran variasi khusus. Ketika ada petunjuk variasi khusus, tindakan perbaikan atau perbaikan proses perlu dilakukan untuk menghilangkan penyebab munculnya variasi khusus tersebut. Baca juga: PART VARIATION DALAM MEASUREMENT SYSTEM ANALYSIS (MSA) Jenis Variasi Dalam aktivitas produksi, ada beberapa jenis variasi yang umum terjadi: Variasi Umum (Common Cause Variation) Variasi ini merupakan variasi yang disebabkan oleh faktor-faktor internal yang umum dan alami dalam suatu proses. Variasi ini mungkin disebabkan oleh perubahan kecil, fluktuasi bahan baku, suhu, kelembaban, atau perubahan kondisi mesin. Variasi ini dianggap sebagai bagian normal dari proses dan bisa diidentifikasi dan dikelola melalui kontrol rutin. Variasi Khusus (Special Cause Variation) Ini adalah variasi yang disebabkan oleh faktor-faktor yang tidak biasa atau diluar kendali yang muncul dalam suatu proses. Variasi ini mungkin disebabkan oleh kegagalan mesin, gangguan tidak terduga, atau perubahan signifikan dalam bahan baku. Ketika variabilitas ini terjadi, perlu dilakukan investigasi lebih lanjut untuk menentukan penyebabnya dan mengambil tindakan korektif. Pemahaman yang baik tentang perbedaan antara kedua jenis variasi ini penting dalam SPC. Tujuan dari pemahaman variasi tadi adalah untuk mengurangi variasi khusus sebanyak mungkin sambil tetap memahami dan mengelola variasi umum yang dialami dalam proses produksi. Kegunaan SPC Dalam hal identifikasi part variation, SPC dapat digunakan untuk: Mengidentifikasi variasi, yaitu memahami sifat variasi dalam proses produksi dan bagian-bagian yang dihasilkan. Memonitor perubahan, yaitu mengidentifikasi perubahan dalam variasi untuk mengambil tindakan perbaikan jika ada perubahan yang signifikan. Meminimalkan variasi yang tidak dikehendaki, yaitu mengendalikan proses produksi untuk meminimalkan variasi yang tidak diinginkan dan memastikan bahwa suku cadang/produk yang dihasilkan. sesuai dengan standar kualitas yang ditetapkan. Memperbaiki Variasi dalam Proses Manufaktur Untuk meningkatkan atau memperbaiki variasi pada bagian-bagian yang dihasilkan dalam proses manufaktur, ada beberapa langkah yang bisa diambil: Analisis Proses: Identifikasi faktor-faktor yang berkontribusi pada variasi. Cari tahu bagian mana dari proses produksi yang paling rentan terhadap variasi. Gunakan tools seperti diagram sebab-akibat (fishbone diagram) atau analisis Pareto untuk memahami akar penyebab dari variasi yang terjadi. Standardisasi Proses: Tetapkan prosedur standar untuk setiap tahapan produksi, termasuk pengaturan mesin, parameter produksi, dan penggunaan bahan baku yang konsisten. Pastikan bahwa operator memahami dan mengikuti prosedur standar dengan seksama. Pemantauan Proses: Gunakan tools SPC seperti diagram peta kendali untuk memantau variasi dalam proses produksi. Hal ini memungkinkan untuk deteksi dini terhadap variasi yang berada di luar batas yang diterima. Perbaikan Berkelanjutan: Jika variasi khusus terdeteksi, lakukan investigasi lebih lanjut untuk mengidentifikasi penyebabnya. Terapkan perbaikan yang diperlukan untuk menghilangkan atau mengurangi variasi khusus tersebut. SPC membantu produsen untuk memahami, mengelola, dan mengendalikan variabilitas dalam proses produksi untuk mencapai kualitas yang konsisten dan memenuhi standar yang ditetapkan, mengurangi pemborosan, dan meningkatkan efisiensi proses produksi secara keseluruhan. Apakah Bapak/Ibu sudah menggunakan SPC dalam mengendalikan proses produksi? *** Ada pertanyaan seputar implementasi Sistem Manajemen IATF 16949:2016, persiapan sertifikasi, persiapan surveillance, persiapan renewal IATF 16949:2016, atau ingin memerluas scope IATF 16949:2017? Bingung menerapkan Core Tools harus mulai dari mana? Ingin memperbaiki Core Tools supaya benar-benar menjadi teknologi analisis bagi perusahaan Anda? Langsung hubungi Marketing Sentral Sistem Consulting di sini: WA/Telp: 0821-2121-9252 (Marketing) | Email: marketing@sentralsistem.com Instagram: @sentral.sistem | LinkedIn: Sentral Sistem Consulting | Facebook: Sentral Sistem Consulting

MEMAHAMI PART VARIATION PADA STATISTICAL PROCESS CONTROL (SPC)

Pada Statistical Process Control (SPC), part variation merujuk pada variasi yang terjadi dalam suku cadang/part selama berlangsungnya proses produksi. SPC adalah metode yang digunakan untuk memantau, mengukur, dan mengendalikan proses produksi dengan tujuan memastikan kualitas produk agar konsisten terhadap spesifikasi produk yang ditetapkan tanpa adanya variasi yang signifikan. Penyebab Terjadinya Variasi Variasi ini dapat terjadi karena berbagai faktor, termasuk perbedaan dalam dimensi, berat, bentuk, atau karakteristik fisik/kimia lainnya dari bagian-bagian yang seharusnya sama. Dalam SPC, part variation dianalisis dan dimonitor dengan menggunakan alat dan teknik statistik, seperti diagram kontrol, histogram, dan analisis data lainnya. Teknik SPC, seperti diagram peta kendali (control charts), memungkinkan pengendalian proses dengan mengidentifikasi pola dan tren yang mungkin menunjukkan kehadiran variasi khusus. Ketika ada petunjuk variasi khusus, tindakan perbaikan atau perbaikan proses perlu dilakukan untuk menghilangkan penyebab munculnya variasi khusus tersebut. Baca juga: PART VARIATION DALAM MEASUREMENT SYSTEM ANALYSIS (MSA) Jenis Variasi Dalam aktivitas produksi, ada beberapa jenis variasi yang umum terjadi: Variasi Umum (Common Cause Variation) Variasi ini merupakan variasi yang disebabkan oleh faktor-faktor internal yang umum dan alami dalam suatu proses. Variasi ini mungkin disebabkan oleh perubahan kecil, fluktuasi bahan baku, suhu, kelembaban, atau perubahan kondisi mesin. Variasi ini dianggap sebagai bagian normal dari proses dan bisa diidentifikasi dan dikelola melalui kontrol rutin. Variasi Khusus (Special Cause Variation) Ini adalah variasi yang disebabkan oleh faktor-faktor yang tidak biasa atau diluar kendali yang muncul dalam suatu proses. Variasi ini mungkin disebabkan oleh kegagalan mesin, gangguan tidak terduga, atau perubahan signifikan dalam bahan baku. Ketika variabilitas ini terjadi, perlu dilakukan investigasi lebih lanjut untuk menentukan penyebabnya dan mengambil tindakan korektif. Pemahaman yang baik tentang perbedaan antara kedua jenis variasi ini penting dalam SPC. Tujuan dari pemahaman variasi tadi adalah untuk mengurangi variasi khusus sebanyak mungkin sambil tetap memahami dan mengelola variasi umum yang dialami dalam proses produksi. Kegunaan SPC Dalam hal identifikasi part variation, SPC dapat digunakan untuk: Mengidentifikasi variasi, yaitu memahami sifat variasi dalam proses produksi dan bagian-bagian yang dihasilkan. Memonitor perubahan, yaitu mengidentifikasi perubahan dalam variasi untuk mengambil tindakan perbaikan jika ada perubahan yang signifikan. Meminimalkan variasi yang tidak dikehendaki, yaitu mengendalikan proses produksi untuk meminimalkan variasi yang tidak diinginkan dan memastikan bahwa suku cadang/produk yang dihasilkan. sesuai dengan standar kualitas yang ditetapkan. Memperbaiki Variasi dalam Proses Manufaktur Untuk meningkatkan atau memperbaiki variasi pada bagian-bagian yang dihasilkan dalam proses manufaktur, ada beberapa langkah yang bisa diambil: Analisis Proses: Identifikasi faktor-faktor yang berkontribusi pada variasi. Cari tahu bagian mana dari proses produksi yang paling rentan terhadap variasi. Gunakan tools seperti diagram sebab-akibat (fishbone diagram) atau analisis Pareto untuk memahami akar penyebab dari variasi yang terjadi. Standardisasi Proses: Tetapkan prosedur standar untuk setiap tahapan produksi, termasuk pengaturan mesin, parameter produksi, dan penggunaan bahan baku yang konsisten. Pastikan bahwa operator memahami dan mengikuti prosedur standar dengan seksama. Pemantauan Proses: Gunakan tools SPC seperti diagram peta kendali untuk memantau variasi dalam proses produksi. Hal ini memungkinkan untuk deteksi dini terhadap variasi yang berada di luar batas yang diterima. Perbaikan Berkelanjutan: Jika variasi khusus terdeteksi, lakukan investigasi lebih lanjut untuk mengidentifikasi penyebabnya. Terapkan perbaikan yang diperlukan untuk menghilangkan atau mengurangi variasi khusus tersebut. SPC membantu produsen untuk memahami, mengelola, dan mengendalikan variabilitas dalam proses produksi untuk mencapai kualitas yang konsisten dan memenuhi standar yang ditetapkan, mengurangi pemborosan, dan meningkatkan efisiensi proses produksi secara keseluruhan. Apakah Bapak/Ibu sudah menggunakan SPC dalam mengendalikan proses produksi? *** Ada pertanyaan seputar implementasi Sistem Manajemen IATF 16949:2016, persiapan sertifikasi, persiapan surveillance, persiapan renewal IATF 16949:2016, atau ingin memerluas scope IATF 16949:2017? Bingung menerapkan Core Tools harus mulai dari mana? Ingin memperbaiki Core Tools supaya benar-benar menjadi teknologi analisis bagi perusahaan Anda? Langsung hubungi Marketing Sentral Sistem Consulting di sini: WA/Telp: 0821-2121-9252 (Marketing) | Email: marketing@sentralsistem.com Instagram: @sentral.sistem | LinkedIn: Sentral Sistem Consulting | Facebook: Sentral Sistem Consulting  

Sejarah Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)

Pertama Kali Diakui PBB Saat ini, penerapan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) tidak hanya diterapkan oleh negara-negara maju, tetapi juga telah berkembang dan digunakan oleh negara-negara berkembang. Sejarah AMDAL dimulai ketika perangkat AMDAL diakui oleh PBB melalui Deklarasi Rio pada tahun 1992. Sejumlah pemerintah dan institusi non-pemerintah dari berbagai negara mengajukan masukan dan rekomendasi, namun usaha untuk menyusun dokumen AMDAL belum berhasil diterima semua pihak. KTT Bumi yang terkenal dengan Deklarasi Rio berhasil menyepakati hasil sebuah dokumen yang sangat penting. Walaupun belum mampu memperkuat visi etika lingkungan hidup, namun Deklarasi Rio dipandang berhasil menghubungkan antara lingkungan hidup dan masalah ekonomi dan sosial, seperti kemiskinan, kebijakan perdagangan, pemberdayaan masyarakat, dan lainnya. Awal Perkembangan AMDAL di Negara Maju Di negara maju, AMDAL dikenal sebagai Environmental Impact Assessment atau Environmental Impact Analysis (EIA). AMDAL secara resmi tumbuh dan berkembang sejak tahun 1969, ditandai dengan dikeluarkannya National Environmental Policy Act (NEPA) di Amerika Serikat. NEPA di AS mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 1970. Baca juga: Mengetahui Jenis Usaha dan Kegiatan yang Wajib Memiliki AMDAL Awal Perkembangan AMDAL di Indonesia Di Indonesia, EIA dikenal sebagai AMDAL pada tahun 1974-1979 (Pelita II), yaitu ketika delegasi Indonesia ikut serta dalam Konferensi Stockholm 1972. AMDAL diterapkan secara formal di Indonesia pada tahun 1982 dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1982. Namun, peraturan tersebut belum terlaksana secara luas. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 Pada tahun 1983, koordinasi antar lembaga di Indonesia untuk pelaksanaan AMDAL belum berjalan efektif. Oleh karena itu, dikeluarkanlah Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Tahap ini merupakan tahap pengembangan AMDAL dengan penekanan pada penyederhanaan proses AMDAL, sejalan dengan birokrasi pemerintah saat itu. Pada tahap ini, Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (BAPEDAL) mulai beroperasi dengan baik dan memiliki otoritas penataan AMDAL serta pengawasan kualitas dokumen yang dihasilkan pemrakarsa. Aturan ini juga memperkenalkan studi pendekatan AMDAL, yaitu AMDAL proyek, regional, kawasan, dan terpadu. Dengan pendekatan tersebut, diharapkan proses AMDAL di Indonesia dapat menjadi lebih efektif dan isu-isu mengenai lingkungan dapat diantisipasi. Perbaikan Peraturan pada Tahun 1997 dan 1999 Tahap perbaikan peraturan berlaku pada tahun 1997, ditandai dengan keluarnya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang AMDAL. Tahap ini menekankan prosedur pelaksanaan AMDAL kepada pemerintah daerah dan pendekatan lintas batas. Selain itu, tahap ini juga ditandai dengan pembubaran Komisi Penilai AMDAL di Departemen Sektoral dan Pemusatan Pelaksanaan AMDAL di BAPEDAL. Tahap ini juga memperkenalkan mekanisme pelibatan masyarakat yang lebih intensif dalam proses pengajuan AMDAL. Namun, pada tahun 1999, keluar Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 yang hanya memberikan kewenangan proses AMDAL hingga tingkat provinsi, akibat perubahan kondisi politik di Indonesia. AMDAL Saat Ini Seiring dengan perkembangan teknologi dan jenis usaha di Indonesia, pemerintah Indonesia, terutama Kementerian Lingkungan Hidup, mengeluarkan kembali peraturan mengenai AMDAL, yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Melalui Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), diharapkan adanya penyampaian informasi yang baik tentang dampak lingkungan kepada pemangku kepentingan. AMDAL memiliki peran penting dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Dengan tujuan memberikan perlindungan pada lingkungan hidup agar tetap lestari dan berkelanjutan, AMDAL juga dapat membantu meningkatkan pemrakarsa di Indonesia untuk berupaya mengendalikan usaha dan kegiatan yang berdampak negatif pada lingkungan hidup. *** Divisi Environmental Improvement Sentral Sistem Consulting siap melayani Anda untuk memberikan konsultasi lingkungan dan membantu Penyusunan Dokumen Persetujuan Lingkungan, SIMPEL, KLHK, Persetujuan Teknis Lingkungan, PROPER, dan Program Safe and Save (Program Improvement Lingkungan untuk Safe untuk lingkungan dan Save dari pengeluaran biaya lingkungan) Info lebih lanjut hubungi :  WA/Telp: 0821-2121-9252 (Marketing) Email: marketing@sentralsistem.com Instagram: @sentral.sistem LinkedIn: Sentral Sistem Consulting Facebook: Sentral Sistem Consulting

Sistem Manajemen Lingkungan (ISO 14001:2015) dalam Penilaian PROPER Hijau, Ini Persyaratannya!

Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan Dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup (PROPER) merupakan salah satu instrumen pengelolaan lingkungan hidup yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Ini dilakukan dengan melakukan penilaian kinerja lingkungan terhadap pemenuhan perusahaan terhadap standar lingkungan. Penilaian PROPER dilakukan khusus untuk perusahaan yang ditunjuk atau perusahaan yang memiliki dampak besar terhadap lingkungan hidup. Kriteria PROPER Kriteria PROPER berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. 1 Tahun 2021 tentang Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan Dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup. Salah satu aspek penilaian PROPER Hijau yaitu penerapan Sistem Manajemen Lingkungan (ISO 14001:2015). Penerapan Sistem Manajemen Lingkungan yang dipersyaratkan dalam PROPER Hijau mengacu pada konsep PDCA (Planning, Do, Check & Action). Baca juga: Apa Itu PROPER? Mengapa Harus PROPER? Persyaratan PROPER Hijau Berikut merupakan persyaratan yang perlu dipenuhi untuk mendapatkan nilai maksimal dalam PROPER Hijau, diantaranya: Kebijakan Lingkungan Perencanaan Aspek Lingkungan Pemenuhan Peraturan Tujuan dan Sasaran Program Manajemen Lingkungan Implementasi Struktur dan tanggung jawab Pelatihan, kesadaran dan kompetensi Komunikasi Dokumentasi SML Kontrol Dokumen Kontrol Operasional Tanggap Darurat Upaya Pengecekan dan Perbaikan Pemantauan dan Pengukuran Lingkungan Ketidaksesuaian, Upaya Perbaikan, dan Pencegahan Catatan Audit Internal Tinjauan (Review) oleh Manajer Rentang Pengaruh Sertifikasi *** Divisi Environmental Improvement Sentral Sistem Consulting siap melayani Anda untuk memberikan konsultasi lingkungan dan membantu Penyusunan Dokumen Persetujuan Lingkungan, SIMPEL, KLHK, Persetujuan Teknis Lingkungan, PROPER, dan Program Safe and Save (Program Improvement Lingkungan untuk Safe untuk lingkungan dan Save dari pengeluaran biaya lingkungan) Info lebih lanjut hubungi :  WA/Telp: 0821-2121-9252 (Marketing) Email: marketing@sentralsistem.com Instagram: @sentral.sistem LinkedIn: Sentral Sistem Consulting Facebook: Sentral Sistem Consulting

Persyaratan Penyimpanan Limbah B3 Sesuai Peraturan Menteri LHK No. 6 Tahun 2021

Hakekatnya, kegiatan industri, rumah sakit, bengkel, dan lainnya akan menghasilkan limbah B3 selama beroperasi. Limbah B3 merupakan sisa dari suatu kegiatan, usaha, atau proses yang memiliki kandungan berbahaya dan beracun (B3), sehingga berpotensi untuk mencemari lingkungan hidup. Limbah B3 dapat berupa oli bekas, aki bekas, baterai bekas, lampu bekas, dan lain-lain yang tercantum pada Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 Lampiran IX. Mengingat limbah B3 berpotensi untuk mencemari lingkungan hidup, maka limbah B3 harus dikelola dengan baik. Bentuk pengelolaan yang dimaksud meliputi penyimpanan, pengangkutan, pemanfaatan, pemusnahan, dan lainnya. Fasilitas Penyimpanan Limbah B3 Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 6 Tahun 2021, setiap kegiatan dan/atau usaha yang menghasilkan limbah B3 wajib menyediakan fasilitas penyimpanan untuk menyimpan limbah B3. Fasilitas penyimpanan dapat berupa bangunan, tangki, silo, kolam, atau tempat penumpukan. Penghasil limbah B3 dapat menentukan jenis fasilitas penyimpanan yang akan digunakan atau dibangun dengan mempertimbangkan kategori limbah B3. Bangunan adalah salah satu fasilitas penyimpanan limbah B3 yang sering menjadi pilihan penghasil limbah B3 untuk menyimpan limbah B3. Dalam peraturan, terdapat beberapa persyaratan teknis yang perlu diperhatikan dalam menetapkan bangunan sebagai fasilitas penyimpanan limbah B3. Persyaratan Bangunan sebagai Fasilitas Penyimpanan Persyaratan bangunan sebagai fasilitas penyimpanan limbah B3: Rancangan bangunan harus sesuai dengan jenis dan karakteristik limbah B3, dengan mempertimbangkan standar kecocokan karakteristik limbah B3. Luas ruang penyimpanan harus disesuaikan dengan jumlah limbah B3 yang disimpan. Desain dan konstruksi bangunan harus tertutup dan mampu melindungi Limbah B3 dari hujan. Atap bangunan harus terbuat dari bahan yang tidak mudah terbakar. Bangunan harus memiliki sistem ventilasi yang memadai untuk sirkulasi udara. Bangunan harus dilengkapi dengan sistem pencahayaan yang memadai dan disesuaikan dengan rancangan bangunan. Permukaan lantai bangunan harus kedap air dan tidak bergelombang Lantai bangunan harus dibuat melandai dengan kemiringan paling tinggi 1% (satu persen) ke arah bak penampung tumpahan. Lantai bagian luar bangunan harus dibuat kedap air agar air hujan tidak masuk ke dalam bangunan tempat penyimpanan limbah B3. Bangunan harus memiliki saluran drainase untuk mengalirkan ceceran, tumpahan limbah B3, dan/atau air hasil pembersihan ceceran atau tumpahan limbah B3. Bangunan harus dilengkapi dengan bak penampung tumpahan yang memadai untuk menampung ceceran, tumpahan limbah B3, dan/atau air hasil pembersihan ceceran atau tumpahan limbah B3. Bangunan harus dilengkapi dengan simbol limbah B3 sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Kemasan Limbah B3 Selain bangunan penyimpanan yang harus memenuhi persyaratan, limbah B3 yang disimpan di bangunan juga harus dikemas. Kemasan limbah B3 dapat berupa jumbo bag, drum, tangki (IBC atau kempu), dan lainnya. Dalam menentukan kemasan, penghasil limbah B3 harus memperhatikan karakteristik dan bentuk limbah B3 tersebut. Selanjutnya, kemasan limbah B3 harus ditempeli simbol limbah B3, label limbah B3, dan label arah tutup kemasan. Setiap dasar kemasan limbah B3 harus diberi palet. Gambar 1. Standar Pemberian Simbol dan Label pada Kemasan Limbah B3 Standar Penumpukan Kemasan Limbah B3 Selanjutnya, selama penyimpanan limbah B3, penghasil harus memberikan jarak atau ruang antar area penyimpanan. Hal ini untuk mempermudah lalu lintas manusia dan proses pengangkutan limbah B3 ke mobil pengangkut limbah. Kemasan limbah B3 dapat ditumpuk dengan jenis limbah B3 yang sama. Setiap tumpukan, dasar kemasan limbah B3 harus diberi palet. Gambar 2.  Standar Penumpukan Kemasan Limbah B3 dan Penyimpanan Limbah B3  

Memahami Number of Distinct Categories (NDC) dan Manfaatnya

Dalam penggunaan core tools, kita akan menemukan poin Number of Distinct Categories. Apa sih sebenarnya Number of Distinct Categories itu? Pengertian Number of Distinct Categories Dalam Statistical Process Control (SPC), NDC dapat merujuk pada jumlah kategori yang berbeda dalam suatu himpunan data ketika menggunakan teknik kontrol statistik untuk memonitor dan mengendalikan proses produksi.  Pada dasarnya, ketika kita mengumpulkan data dalam pengendalian proses statistik, kita dapat membaginya ke dalam beberapa kategori atau kelompok yang berbeda berdasarkan karakteristik tertentu. Jumlah kategori atau kelompok unik ini disebut sebagai Number of Distinct Categories. Contoh Number of Distinct Categories Contoh sederhana dapat digambarkan ketika kita mengukur ketebalan suatu produk setiap jam selama sebulan. Dari pengukuran ini hasilnya dikelompokkan menjadi tiga kategori, misalnya: "kurang dari 2 mm", "antara 2 mm dan 5 mm", dan "lebih dari 5 mm", maka kita memiliki tiga Number of Distinct Categories untuk data ketebalan produk. Penting untuk memahami kategori-kategori ini karena dapat memberikan wawasan tentang variasi yang terjadi dalam proses produksi. Pemantauan jumlah kategori yang berbeda atau perubahan dalam kategori-kategori tersebut dapat membantu dalam identifikasi masalah atau perubahan dalam proses produksi yang mungkin memerlukan perhatian atau tindakan korektif. Selain itu, informasi ini juga dapat digunakan sebagai bagian dari analisis statistik yang lebih luas dalam mengelola dan meningkatkan proses produksi. Selama sebulan, kita mengumpulkan data setiap hari dan membaginya ke dalam kategori-kategori ini. Berikut adalah contoh data: Hari 1 : 1.3 mm Hari 2 : 3.5 mm Hari 3 : 1.7 mm Hari 4 : 5.3 mm Hari 5 : 5.4 mm Jika kita melihat data tersebut, kita bisa mendapatkan Number of Distinct Categories sebagai berikut: Dalam hal ini, Number of Distinct Categories adalah 3. Ada tiga kategori yang berbeda untuk ketebalan produk yang dihasilkan oleh lini produksi selama periode waktu tertentu. Hal ini memberikan pemahaman yang lebih baik tentang variasi dalam ketebalan produk dan dapat digunakan dalam pengendalian proses statistik untuk memastikan bahwa produk memenuhi spesifikasi yang ditetapkan. Manfaat Memahami Number of Distinct Categories Memahami Number of Distinct Categories memiliki beberapa manfaat signifikan dalam berbagai konteks, terutama dalam analisis data, pengendalian proses, dan pengembangan produk. Beberapa alasan utama mengapa penting untuk memahami jumlah kategori yang berbeda adalah: Pemahaman Variasi: Number of Distinct Categories dapat membantu dalam mengidentifikasi dan memahami variasi dalam data. Hal ini sangat penting dalam pengendalian proses dan analisis data untuk menentukan seberapa konsisten suatu produk atau proses dalam memenuhi spesifikasi yang ditetapkan. Pengendalian Kualitas: Dalam pengendalian kualitas, memahami jumlah kategori yang berbeda dapat membantu dalam menetapkan batasan kontrol dan menilai apakah suatu produk atau proses berada dalam batas yang dapat diterima dari segi kualitas. Identifikasi Karakteristik Kritis: Memahami jumlah kategori dapat membantu dalam mengidentifikasi karakteristik kritis yang harus dipantau dan dikendalikan untuk memastikan bahwa produk atau proses mencapai standar kualitas yang diinginkan. Berdasarkan standar AIAG IATF, Number of Distinct Categories (NDC) harus lebih besar dari 4. Jika NDC lebih besar dari 4, maka dapat dikatakan bahwa variasi data yang ada sudah valid. Secara keseluruhan, pemahaman Number of Distinct Categories (NDC) dapat membantu organisasi untuk membuat keputusan yang lebih informatif, mengelola risiko, meningkatkan kualitas produk, dan menyusun strategi yang lebih efektif dalam berbagai konteks bisnis.

PENTINGNYA ANALISIS DATA AKTUAL DALAM BISNIS

Seringkali terjadi bahwa ketika ada suatu isu, seorang analis bisnis atau sebuah organisasi cenderung langsung menyimpulkan isu tersebut berdasarkan opini daripada fakta yang terdokumentasi. Analisis data aktual merupakan suatu proses saat data terbaru atau yang baru-baru ini diperoleh dianalisis dan dievaluasi untuk mendapatkan wawasan yang berguna atau pemahaman yang lebih mendalam tentang situasi saat ini atau tren pasar yang sedang terjadi. Analisis data aktual sangat penting dalam konteks bisnis. Mengapa hal ini sangat penting? Berikut ini beberapa alasan mengapa analisis data aktual diperlukan: 1. Pemahaman yang Lebih Baik Tentang Performa Bisnis: Analisis data aktual memungkinkan perusahaan untuk memahami kinerja bisnis mereka saat ini. Banyak pemahaman yang kurang tepat mengenai performa suatu bisnis. Dengan menganalisis data operasional, keuangan, dan lainnya, perusahaan dapat memperoleh wawasan tentang bagaimana proses bisnis mereka berjalan, aspek mana yang dapat diperbaiki, dan usaha mana saja yang telah berhasil. 2. Pengambilan Keputusan yang Lebih Baik dan Cepat: Data aktual memberikan dasar yang kuat untuk pengambilan keputusan yang lebih baik. Melalui analisis data, manajemen dapat melakukan pengambilan keputusan yang didukung oleh bukti dan fakta, bukan hanya intuisi semata. Hal ini membantu merumuskan strategi yang lebih efektif dan responsif terhadap perubahan pasar atau lingkungan bisnis. 3. Mendeteksi Tren Pasar dan Polanya: Analisis data aktual memungkinkan organisasi untuk mengidentifikasi tren pasar, perilaku pelanggan, atau perubahan dalam kebutuhan pasar yang mungkin tidak terdeteksi secara manual. Dengan melacak tren pasar ini, perusahaan dapat menyesuaikan strategi mereka untuk tetap relevan dan bersaing. 4. Optimisasi Efisiensi Operasional: Dengan menganalisis data aktual, perusahaan dapat mengidentifikasi area proses operasional mana yang dapat dioptimalkan. Optimasi ini dapat mengarah pada penghematan biaya, peningkatan produktivitas, dan efisiensi yang lebih besar. 5. Peluang Inovasi: Data aktual dapat mengungkap peluang inovasi baru. Analisis data yang tepat dapat membantu perusahaan dalam mengidentifikasi celah di pasar atau menciptakan produk dan layanan baru yang memenuhi kebutuhan pelanggan yang berkembang. 6. Penyesuaian Terhadap Perubahan: Data aktual membantu organisasi dalam merespons perubahan pasar dengan lebih cepat dan lebih efektif. Ini memungkinkan mereka untuk mengadaptasi strategi mereka atau mengubah fokus bisnis jika diperlukan. 7. Evaluasi Kinerja dan Perbaikan Berkelanjutan: Analisis data aktual memberikan dasar untuk evaluasi kinerja secara terus-menerus. Dengan memantau kinerja bisnis, perusahaan dapat mengidentifikasi area dimana mereka perlu melakukan perbaikan lebih lanjut. Identifikasi sumber data yang relevan dan pengumpulan data aktual dari berbagai sumber, baik internal maupun eksternal, sangat diperlukan dalam proses analisis data. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan data yang lengkap dan akurat, sehingga hasil analisis data dapat dipertanggungjawabkan. Analisis data aktual penting untuk mendukung pengambilan keputusan yang tepat dan untuk memahami dinamika yang sedang berlangsung dalam berbagai konteks, seperti bisnis, ilmu pengetahuan, dan lainnya. Analisis data aktual mengacu pada proses menggunakan data terbaru untuk memahami informasi yang relevan, menganalisis tren pasar, menemukan pola, serta membuat keputusan berdasarkan fakta yang terjadi saat ini. Dengan menggunakan data aktual secara efektif, organisasi dapat membuat keputusan yang lebih baik, menangkap peluang, dan meningkatkan daya saing mereka di pasar yang sangat dinamis. Dalam dunia yang terus berubah dengan sangat cepat ini, keputusan berdasarkan data aktual memainkan peran penting dalam menjaga keberlanjutan dan keberhasilan sebuah organisasi. Hal ini membantu organisasi untuk lebih adaptif, responsif, dan kompetitif di pasar yang dinamis.

Pemetaan Proses Bisnis, Bagaimana Langkah-Langkahnya?

Terkadang, sebuah organisasi dalam mengidentifikasi atau memetakan bisnis tidak melakukan identifikasi secara detail atau terburu-buru dalam mengambil kesimpulan. Apakah ini akan berdampak cukup besar bagi organisasi? Pengertian Pemetaan Proses Bisnis Pemetaan proses bisnis berkaitan dengan proses mendokumentasikan, menganalisis, dan memvisualisasikan aliran kerja atau serangkaian langkah-langkah yang terjadi dalam suatu proses bisnis. Tujuannya adalah untuk memahami proses secara menyeluruh, mengidentifikasi area yang dapat ditingkatkan, mengurangi pemborosan, dan meningkatkan efisiensi serta kualitas proses tersebut. Manfaat Pemetaan Proses Bisnis Pemetaan proses bisnis membantu organisasi dalam memahami, mengevaluasi, dan meningkatkan efisiensi serta kualitas proses yang ada. Ini menjadi alat penting dalam pengelolaan operasional dan strategis suatu organisasi. Langkah-langkah yang tepat dalam pemetaan proses bisnis dapat bervariasi tergantung pada kebutuhan dan konteks spesifik dari organisasi tersebut. Tentunya, langkah yang kurang tepat akan membuat kesalahan dalam mengidentifikasi proses terkait yang akan berdampak ke depannya atau ke proses berikutnya pada bisnis tersebut. Langkah-Langkah Pemetaan Proses Bisnis Langkah-langkah dalam melakukan proses pemetaan (mapping) proses bisnis meliputi: Identifikasi Tujuan dan Lingkup: Tentukan tujuan dari pemetaan proses tersebut. Apakah untuk meningkatkan efisiensi, mengidentifikasi kelemahan, atau mengenali peluang untuk perbaikan? Tetapkan juga ruang lingkup proses yang akan dipetakan. Identifikasi proses yang akan dipetakan: Pilih proses bisnis yang akan dipetakan. Pastikan untuk memahami proses ini secara menyeluruh, termasuk entitas atau orang yang terlibat, langkah-langkah yang diperlukan, dan input serta output yang dihasilkan. Kumpulkan Informasi dan Data: Lakukan wawancara dengan orang yang terlibat dalam proses tersebut. Kumpulkan data, dokumen, dan informasi terkait proses. Ini bisa meliputi alur kerja, diagram yang sudah ada, kebijakan, dan metode kerja yang digunakan. Mulai Memetakan Proses: Mulailah memetakan proses dengan mengidentifikasi langkah-langkah utama, keputusan, input, output, dan interaksi antar bagian atau orang dalam proses tersebut. Gunakan simbol atau notasi yang konsisten sesuai dengan metode pemetaan yang dipilih. Verifikasi dan Validasi: Pastikan untuk memverifikasi pemetaan proses dengan orang yang terlibat untuk memastikan keakuratan dan kelengkapan informasi yang tercatat. Analisis dan Identifikasi Perbaikan: Setelah proses dipetakan, lakukan analisis terhadap informasi yang diperoleh. Identifikasi area di mana perbaikan bisa dilakukan, pemborosan yang bisa dihilangkan, atau langkah-langkah untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas proses. Implementasi Perbaikan: Gunakan hasil pemetaan untuk merancang perbaikan proses yang diperlukan. Implementasikan perubahan yang direncanakan dengan memonitor hasilnya secara teratur. Pemantauan dan Evaluasi Berkelanjutan: Lakukan pemantauan terhadap proses yang telah diperbaiki. Evaluasi secara berkala untuk memastikan bahwa perbaikan yang diimplementasikan memberikan dampak yang diinginkan, dan jika diperlukan, lakukan penyesuaian lebih lanjut. Pemetaan proses bisnis merupakan alat penting dalam manajemen operasional dan strategis organisasi. Hal ini membantu dalam memahami, menganalisis, dan meningkatkan kinerja proses bisnis untuk mencapai efisiensi dan efektivitas yang lebih baik. Langkah-langkah di atas dapat membantu organisasi Anda dalam memahami, memetakan, dan meningkatkan proses bisnis mereka untuk mencapai efisiensi, kualitas, dan daya saing yang lebih baik. Langkah-langkah yang tepat dalam pemetaan proses bisnis dapat bervariasi tergantung pada kebutuhan dan konteks spesifik dari organisasi tersebut. Menjalankan langkah-langkah ini secara sistematis membantu organisasi untuk memahami, mengevaluasi, dan meningkatkan efisiensi serta kualitas proses yang ada. Penting untuk diingat bahwa pemetaan proses bisnis adalah proses iteratif. Proses ini memerlukan peninjauan berkala untuk memastikan bahwa pemetaan tetap relevan dan sesuai dengan kebutuhan organisasi yang terus berubah.  

STANDAR INDUSTRI HIJAU DAN SERTIFIKASINYA

Kementerian Perindustrian dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian menyatakan bahwa penyelenggaraan perindustrian memiliki tujuan, salah satunya, untuk mewujudkan industri yang mandiri, berdaya saing, dan maju, serta Industri Hijau. Terdapat tujuan menciptakan Industri Hijau dalam penyelenggaraan perindustrian. Apa itu Industri Hijau? Industri Hijau dapat dijelaskan sebagai sektor produksi yang secara terus-menerus menekankan strategi efisiensi dan efektivitas dalam semua tahapan prosesnya. Pendekatan ini ditujukan untuk memastikan penggunaan sumber daya yang berkelanjutan, dengan tujuan menciptakan keseimbangan yang harmonis antara perkembangan industri dan pelestarian fungsi lingkungan hidup. Selain itu, fokus Industri Hijau juga tertuju pada memberikan dampak positif yang substansial bagi masyarakat, menggarisbawahi komitmen untuk menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan dalam konteks sosial dan ekonomi. Dalam upaya mendukung perkembangan Industri Hijau, Kementerian Perindustrian memutuskan untuk menetapkan standarisasi khusus Industri Hijau yang mencakup berbagai sektor industri. Tujuan utama dari langkah ini adalah untuk memberikan kemudahan kepada pelaku industri dalam mengadopsi dan mengimplementasikan Standar Industri Hijau. Meskipun pada awalnya penerapan Standar Industri Hijau bersifat sukarela, namun seiring berjalannya waktu, terdapat rencana untuk menjadikannya sebagai kewajiban secara bertahap. Rencana ini akan diatur secara resmi melalui peraturan yang akan ditetapkan oleh Menteri Perindustrian, menggambarkan komitmen pemerintah untuk mendorong penerapan prinsip-prinsip Industri Hijau di seluruh sektor industri. Perusahaan industri sebaiknya memasukkan pertimbangan terhadap Standar Industri Hijau ke dalam segala aspek praktik bisnisnya. Dengan demikian, ketika standar ini akhirnya menjadi suatu kewajiban yang mengikat, perusahaan telah membangun fondasi yang kokoh melalui penerapan standar tersebut. Penerapan prinsip-prinsip Industri Hijau juga secara signifikan bersesuaian dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), menciptakan sinergi antara perkembangan industri dan pelestarian lingkungan serta kesejahteraan masyarakat. 7 Prinsip Industri Hijau Terdapat 7 prinsip dalam penerapan Industri Hijau, sebagaimana dirinci dalam gambar berikut: Manfaat Penerapan Industri Hijau Manfaat penerapan Industri Hijau bagi perusahaan industri: Meningkatkan profitabilitas (efisiensi sumber daya); Meningkatkan citra perusahaan; Meningkatkan kinerja perusahaan; Meningkatkan daya saing industri; Fleksibilitas dalam regulasi; Terbukanya peluang pasar baru; Kontribusi dalam pencapaian SDGs; Peningkatan ESG perusahaan; dan Menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup. Standar Industri Hijau memuat ketentuan mengenai: Perusahaan yang menerapkan Standar Industri Hijau dapat melakukan sertifikasi Industri Hijau pada Lembaga Sertifikasi Industri Hijau (LSIH) yang sudah memenuhi persyaratan SNI ISO 17065 tentang penilaian kesesuaian persyaratan lembaga sertifikasi produk, proses, dan jasa, serta memenuhi persyaratan LSIH. Saat ini, sudah terdapat kurang lebih 16 LSIH yang terdaftar sesuai Peraturan Menteri Perindustrian Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2020. Perusahaan industri yang akan melakukan sertifikasi Industri Hijau dapat mengacu pada skema di bawah ini: Source: Kemenperin RI, Sertifikasi Industri Hijau Dalam penerapan Industri Hijau, Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dapat memberikan fasilitas kepada perusahaan industri yang melaksanakan upaya untuk mewujudkan Industri Hijau. Fasilitas tersebut berupa fasilitas fiskal dan fasilitas nonfiskal. Fasilitas fiskal diberikan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Fasilitas nonfiskal dapat berupa: pelatihan peningkatan pengetahuan dan keterampilan sumber daya manusia industri dalam penerapan Industri Hijau; pelimpahan hak produksi atas suatu teknologi yang lisensi patennya telah dipegang oleh Pemerintah Pusat dan/atau Pemerintah Daerah; pembinaan keamanan dan/atau pengamanan kegiatan operasional sektor industri guna keberlangsungan atau kelancaran kegiatan logistik dan/atau produksi bagi perusahaan industri yang merupakan objek vital nasional dan memiliki sertifikat Industri Hijau; dan/atau penyediaan bantuan promosi hasil produksi.  

PUBLIC TRAINING CALIBRATION ALL PACKAGE (JANUARI 2024 BATCH)

REGISTER HERE!   Public Training Kalibrasi Sistem manajemen mutu mensyaratkan perusahaan untuk melakukan kalibrasi peralatan ukur yang dipakai selama proses produksi. Selain untuk persyaratan admnistrasi, kalibrasi memiliki banyak manfaat, salah satunya untuk menghindari cacat produk serta untuk meminimalisir kecelakaan kerja ketika proses produksi. Oleh karena itu, alangkah lebih baik jika sebuah perusahaan memiliki kalibrator internal untuk mengkalibrasi alat ukur secara rutin.   Tujuan Training Kalibrasi 1. Memiliki kemampuan melakukan kalibrasi alat ukur dengan metode dan prosedur yang berlaku secara internasional. 2. Mengetahui teknik kalibrasi, verifikasi alat ukur, alat pantau besaran dimensi dan volume, serta mampu melakukan kalibrasi internal secara tepat. 3. Mengerti mengenai standar dari masing-masing konsep kalibrasi, verifikasi, dan manajemen kalibrasi sesuai dengan standar acuan yang sudah dibakukan. 4. Mampu melakukan kalibrasi alat ukur serta analisis perhitungan ketidakpastian dari data kalibrasi dengan memahami ketidakpastian dan perhitungannya. 5. Mengetahui seberapa jauh kesalahan (penyimpangan) alat ukur, sehingga ketelitian alat ukur tersebut dapat diketahui. 6. Mampu dan mengerti cara membaca dan membuat laporan hasil kalibrasi, termasuk sertifikat kalibrasi.   Nilai Tambah Training Kalibrasi bersama Sentral Sistem Training berkonsep ROTI (Return On Training Investment) Peserta diwajibkan menerapkan ilmu yang sudah diberikan melalui “Implementation Challenge”, yang meliputi: a. Menyusun satu rencana perbaikan yang disepakati oleh Management b. Menyusun program kerja untuk mencapai target c. Melaksanakan program kerja, evaluasi dan perbaikan d. Presentasi hasil, menyampaikan ide dan gagasan 2. Fokus pada perubahan pola pikir 3. Training dengan pendekatan logika 4. Training yang bersifat “Fun” 5. Sentral Sistem memiliki Laboratorium Kalibrasi sendiri yang telah terakreditasi KAN 6. Trainer Sentral Sistem memiliki banyak pengalaman menyelesaikan permasalahan teknis di lapangan seputar kalibrasi alat   REGISTER HERE!     

FREE ONLINE TRAINING PoNC/CoNC - PERENCANAAN BIAYA KUALITAS DALAM IATF 16949

  REGISTER HERE!   FREE ONLINE TRAINING MONTHLY RECHARGE 5 Seperti halnya ponsel, otak juga perlu di-"charge" agar tidak "lowbatt". Mari charge otak kita dengan pengetahuan baru setiap bulannya hanya di MONTHLY RECHARGE by Sentral Sistem Consulting.   TEMA: PoNC/CoNC - Perencanaan Biaya Kualitas dalam IATF 16949   NARASUMBER: Lisdyanto, dipl.lng, dipl.wirt.lng Senior Consultant of Standard Management System (Automotive, Manufacture, Energy, and Asset Management)   - Implementator and Auditor Specialist BCMS (Business Continuity Management System) ISO 22301 for Domestic and Overseas Clients   MATERI TRAINING: Identifikasi dari Cost of Non-Conformance Anatomi dari Cost of Non-Conformance Metode Kalkulasi Cost of Non-Conformance Praktik Penyusunan Cost of Non-Conformance Code of Conduct   PELAKSANAAN TRAINING: Hari, tanggal : Sabtu, 02 Desember 2023Waktu            : 10.00 - 12.00 WIBTempat          : Live Zoom Meeting/Channel YouTube "Sentral Sistem"   DAFTAR SEKARANG! LIMITED SEAT!  

PUBLIC TRAINING CALIBRATION ALL PACKAGE (OCTOBER BATCH)

REGISTER HERE!   Public Training Kalibrasi Sistem manajemen mutu men-syaratkan perusahaan untuk melakukan kalibrasi peralatan ukur yang dipakai selama proses produksi. Selain untuk persyaratan admnistrasi, manfaat kalibrasi sesungguhnya banyak sekali. Salah satunya, untuk menghindari cacat produk serta untuk meminimalisir kecelakaan kerja ketika proses produksi. Oleh karena itu, alangkah lebih baik jika sebuah perusahaan memiliki kalibrator internal untuk mengkalibrasi alat ukur secara rutin.   Tujuan Training Kalibrasi Memiliki kemampuan melakukan kalibrasi alat ukur dengan metode dan prosedur yang berlaku secara internasional. Dan mengetahui Teknik kalibrasi / verifikasi alat ukur / alat pantau besaran Dimensi dan Volume. Mampu melakukan kalibrasi internal secara tepat. Mengerti mengenai standar dari masing-masing konsep kalibrasi / verifikasi dan manajemen kalibrasi, sesuai dengan standar acuan yang sudah dibakukan. Peserta mampu melaksanakan kalibrasi alat ukur serta Analisa perhitungan ketidakpastian dari data kalibrasi dengan memahami ketidakpastian dan perhitungannya. Dengan kalibrasi mengetahui seberapa jauh kesalahan (penyimpangan) alat ukur tersebut, sehingga ketelitian alat ukur tersebut dapat diketahui. Mampu dan mengerti membaca atau membuat laporan hasil kalibrasi / sertifikat kalibrasi.   Nilai Tambah Training Kalibrasi bersama Sentral Sistem Training dengan konsep ROTI (Return On Training Investment). Peserta diwajibkan menerapkan ilmu yang sudah diberikan. Menerapkan “Implementation Challenge” Menyusun satu rencana perbaikan yang disepakati oleh Management Menyusun program kerja untuk mencapai target Melaksanakan program kerja, evaluasi dan perbaikan Presentasi hasil, menyampaikan ide dan gagasan Fokus pada perubahan pola pikir Training dengan pendekatan logika Training yang bersifat “Fun” Sentral Sistem memiliki Laboratorium Kalibrasi sendiri yang telah terakreditasi KAN. Trainer Sentral Sistem memiliki banyak pengalaman menyelesaikan permasalahan teknis di lapangan seputar kalibrasi alat.   REGISTER HERE!   

SEMINAR DIGITALISASI ISO 2

REGISTER HERE!   Memasuki era Industri 4.0 dan Society 5.0, digitalisasi menjadi sebuah proses mutlak yang harus dihadapi. Salah satu tujuan digitalisasi adalah mengubah proses dan sistem menjadi lebih efektif dan efisien. Lalu bagaimana dengan proses implementasi ISO? Apa mungkin Digitalisasi ISO dapat dilakukan?Yuk, temukan strategi kunci dan best practice untuk menyelaraskan operasional dan meningkatkan compliance. Dapatkan wawasan berharga dari para ahli yang akan berbagi pengetahuan tentang penyederhanaan alur kerja, memaksimalkan efisiensi, dan memastikan kepatuhan regulasi dengan menggunakan sistem digital.Dapatkan semua insightnya melalui SEMINAR DIGITALISASI ISO 2 yang akan diselenggarakan pada:Hari/Tanggal: Kamis, 20 Juli 2023Waktu: 09.00 - 16.00 WIBTempat: Sentral Cawang Hotel, Jakarta Timur Be part of a community that values integration, efficiency, and compliance. Join us at the seminar and revolutionize the way you see how ISO Compliance works! REGISTER HERE!    

PUBLIC TRAINING CALIBRATION ALL PACKAGE (JUNE BATCH)

REGISTER HERE!   Public Training Kalibrasi Sistem manajemen mutu men-syaratkan perusahaan untuk melakukan kalibrasi peralatan ukur yang dipakai selama proses produksi. Selain untuk persyaratan admnistrasi, manfaat kalibrasi sesungguhnya banyak sekali. Salah satunya, untuk menghindari cacat produk serta untuk meminimalisir kecelakaan kerja ketika proses produksi. Oleh karena itu, alangkah lebih baik jika sebuah perusahaan memiliki kalibrator internal untuk mengkalibrasi alat ukur secara rutin.   Tujuan Training Kalibrasi Memiliki kemampuan melakukan kalibrasi alat ukur dengan metode dan prosedur yang berlaku secara internasional. Dan mengetahui Teknik kalibrasi / verifikasi alat ukur / alat pantau besaran Dimensi dan Volume. Mampu melakukan kalibrasi internal secara tepat. Mengerti mengenai standar dari masing-masing konsep kalibrasi / verifikasi dan manajemen kalibrasi, sesuai dengan standar acuan yang sudah dibakukan. Peserta mampu melaksanakan kalibrasi alat ukur serta Analisa perhitungan ketidakpastian dari data kalibrasi dengan memahami ketidakpastian dan perhitungannya. Dengan kalibrasi mengetahui seberapa jauh kesalahan (penyimpangan) alat ukur tersebut, sehingga ketelitian alat ukur tersebut dapat diketahui. Mampu dan mengerti membaca atau membuat laporan hasil kalibrasi / sertifikat kalibrasi.   Nilai Tambah Training Kalibrasi bersama Sentral Sistem Training dengan konsep ROTI (Return On Training Investment). Peserta diwajibkan menerapkan ilmu yang sudah diberikan. Menerapkan “Implementation Challenge” Menyusun satu rencana perbaikan yang disepakati oleh Management Menyusun program kerja untuk mencapai target Melaksanakan program kerja, evaluasi dan perbaikan Presentasi hasil, menyampaikan ide dan gagasan Fokus pada perubahan pola piker Training dengan pendekatan logika Training yang bersifat “Fun” Sentral Sistem memiliki Laboratorium Kalibrasi sendiri yang telah terakreditasi KAN. Trainer Sentral Sistem memiliki banyak pengalaman menyelesaikan permasalahan teknis di lapangan seputar kalibrasi alat.   REGISTER HERE!

TRAINING DAN UJI KOMPETENSI HRD/SDM SKEMA LEVEL STAFF (BNSP CERTIFIED)

REGISTER SKEMA LEVEL STAFF     Berdasarkan Keputusan Menteri Ketenagakerjaan No 115 tahun 2022 tentang Pemberlakuan Wajib Sertifikasi Kompetensi Kerja bagi Tenaga Kerja Bidang Manajemen Sumber Daya Manusia, maka setiap praktisi di bidang SDM wajib memiliki sertifikat Kompetensi. Tujuan kegiatan ini agar praktisi HR mampu mengelola SDM dengan lebih kondusif dan perusahaan pun dapat menerjemahkan kebijakan ketentuan kekaryawanan secara lebih professional. Berdasarkan hal itu, Sentral Sistem Consulting kini dapat memprovide training HRD BNSP untuk teman-teman yang sedang mencari pelatihan bagi Human Resources nya dan membutuhkan sertifikat BNSP yang diakui secara nasional maupun regionaL

TRAINING DAN UJI KOMPETENSI HRD/SDM SKEMA LEVEL SUPERVISOR (BNSP CERTIFIED)

REGISTER SKEMA LEVEL SUPERVISOR Berdasarkan Keputusan Menteri Ketenagakerjaan No 115 tahun 2022 tentang Pemberlakuan Wajib Sertifikasi Kompetensi Kerja bagi Tenaga Kerja Bidang Manajemen Sumber Daya Manusia, maka setiap praktisi di bidang SDM wajib memiliki sertifikat Kompetensi. Tujuan kegiatan ini agar praktisi HR mampu mengelola SDM dengan lebih kondusif dan perusahaan pun dapat menerjemahkan kebijakan ketentuan kekaryawanan secara lebih professional. Berdasarkan hal itu, Sentral Sistem Consulting kini dapat memprovide training HRD BNSP untuk teman-teman yang sedang mencari pelatihan bagi Human Resources nya dan membutuhkan sertifikat BNSP yang diakui secara nasional maupun regional

TRAINING DAN UJI KOMPETENSI HRD/SDM SKEMA LEVEL MANAGER (BNSP CERTIFIED)

REGISTER SKEMA LEVEL MANAGER Berdasarkan Keputusan Menteri Ketenagakerjaan No 115 tahun 2022 tentang Pemberlakuan Wajib Sertifikasi Kompetensi Kerja bagi Tenaga Kerja Bidang Manajemen Sumber Daya Manusia, maka setiap praktisi di bidang SDM wajib memiliki sertifikat Kompetensi. Tujuan kegiatan ini agar praktisi HR mampu mengelola SDM dengan lebih kondusif dan perusahaan pun dapat menerjemahkan kebijakan ketentuan kekaryawanan secara lebih professional. Berdasarkan hal itu, Sentral Sistem Consulting kini dapat memprovide training HRD BNSP untuk teman-teman yang sedang mencari pelatihan bagi Human Resources nya dan membutuhkan sertifikat BNSP yang diakui secara nasional maupun regional

SEMINAR DIGITALISASI ISO

  REGISTER HERE!   Seminar Digitalisasi ISO Dilatarbelakangi oleh tuntutan Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0, kita harus bisa beradaptasi terhadap perubahan yang cepat.Salah satunya perubahan yang harus segera kita lakukan adalah dengan mengotomasi proses bisnis menjadi berbasis digital.Penggunaan basis digital dalam bisnis memiliki banyak keuntungan. Selain itu, penggunaan digital dapat membantu menghindari berbagai kerugian yang bersumber dari hal-hal seperti konsistensi rendah, pemantauan yang sulit, dan banyak hal lainnya.Oleh karena itu Sentral Sistem hadir dengan SEMINAR DIGITALISASI ISO yang akan mengupas lebih dalam bagaimana cara mengotomasi sebuah proses bisnis dengan kehadiran aspek digital. Manfaat Digitalisasi ISO Menjaga konsistensi penerapan sistem Pengontrolan 100% by program Menghindari human error Meningkatkan efisiensi hingga 30% Kemudahan akses data dan sistem REGISTER HERE!  

PUBLIC TRAINING CALIBRATION ALL PACKAGE (DECEMBER BATCH)

    REGISTER HERE!   Public Training Kalibrasi Sistem manajemen mutu men-syaratkan perusahaan untuk melakukan kalibrasi peralatan ukur yang dipakai selama proses produksi. Selain untuk persyaratan admnistrasi, manfaat kalibrasi sesungguhnya banyak sekali. Salah satunya, untuk menghindari cacat produk serta untuk meminimalisir kecelakaan kerja ketika proses produksi. Oleh karena itu, alangkah lebih baik jika sebuah perusahaan memiliki kalibrator internal untuk mengkalibrasi alat ukur secara rutin.   Tujuan Training Kalibrasi Memiliki kemampuan melakukan kalibrasi alat ukur dengan metode dan prosedur yang berlaku secara internasional. Dan mengetahui Teknik kalibrasi / verifikasi alat ukur / alat pantau besaran Dimensi dan Volume. Mampu melakukan kalibrasi internal secara tepat. Mengerti mengenai standar dari masing-masing konsep kalibrasi / verifikasi dan manajemen kalibrasi, sesuai dengan standar acuan yang sudah dibakukan. Peserta mampu melaksanakan kalibrasi alat ukur serta Analisa perhitungan ketidakpastian dari data kalibrasi dengan memahami ketidakpastian dan perhitungannya. Dengan kalibrasi mengetahui seberapa jauh kesalahan (penyimpangan) alat ukur tersebut, sehingga ketelitian alat ukur tersebut dapat diketahui. Mampu dan mengerti membaca atau membuat laporan hasil kalibrasi / sertifikat kalibrasi.   Nilai Tambah Training Kalibrasi bersama Sentral Sistem Training dengan konsep ROTI (Return On Training Investment). Peserta diwajibkan menerapkan ilmu yang sudah diberikan. Menerapkan “Implementation Challenge” Menyusun satu rencana perbaikan yang disepakati oleh Management Menyusun program kerja untuk mencapai target Melaksanakan program kerja, evaluasi dan perbaikan Presentasi hasil, menyampaikan ide dan gagasan Fokus pada perubahan pola piker Training dengan pendekatan logika Training yang bersifat “Fun” Sentral Sistem memiliki Laboratorium Kalibrasi sendiri yang telah terakreditasi KAN. Trainer Sentral Sistem memiliki banyak pengalaman menyelesaikan permasalahan teknis di lapangan seputar kalibrasi alat.   REGISTER HERE!

Got any consulting related question?

News

Uji Kelayakan (Due Diligence) pada Proses Penerimaan Karyawan dalam Penerapan ISO 37001:2016

Isu korupsi menarik perhatian dunia karena meningkatnya kasus korupsi yang melibatkan sektor pemerintah dan swasta. Menurut data dari World Bank, sekitar USD 1 triliun suap dibayarkan setiap tahunnya di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Berbagai kasus korupsi yang dilakukan oleh penyelenggara negara, pejabat BUMN, hingga korporasi menjadi catatan buruk bagi Pemerintah Indonesia. Berdasarkan data yang berasal dari KPK, dari tahun 2004 hingga Juni 2019, jenis korupsi yang mendominasi (sekitar 65%) di Indonesia adalah tindak penyuapan. Pengertian Penyuapan Penyuapan adalah aktivitas yang dilakukan oleh organisasi atau personel dalam menawarkan, menjanjikan, memberikan, menerima, atau meminta keuntungan yang tidak semestinya dari nilai apa pun. Keuntungan tersebut dapat berupa keuangan atau non-keuangan (seperti hadiah, jabatan, dll) secara langsung atau tidak langsung, terlepas dari lokasi. Tindakan penyuapan merupakan pelanggaran perundang-undangan, berupa bujukan atau hadiah untuk orang yang bertindak atau menahan diri untuk bertindak terkait kinerja dari tugas orang tersebut. Penyuapan dalam Bentuk Non-Keuangan Kejadian penyuapan yang paling sering menjadi perbincangan masyarakat umumnya terkait dengan keuangan. Padahal, dalam penerapannya, penyuapan sering kali diberikan dalam bentuk non-keuangan, seperti kenaikan pangkat, pemberian jatah kepada keluarga atau kerabat untuk dapat bekerja di perusahaan tersebut, atau melalui berbagai kebijakan lainnya. Salah satu proses yang kemungkinan sering kali menjadi tempat terjadinya penyuapan di perusahaan adalah terkait dengan proses penerimaan karyawan. Beberapa kasus menunjukkan kejadian penyuapan yang bertujuan memberikan privilege khusus kepada individu tertentu agar dapat diterima di perusahaan, baik dengan atau tanpa melalui proses sesuai dengan prosedur dan/atau peraturan yang berlaku. Tonton juga: Pengendalian Risiko Penyuapan Ordal dalam Proses Rekrutmen Sistem Manajemen Anti Penyuapan (ISO 37001:2016) Untuk mengendalikan risiko penyuapan dalam proses penerimaan karyawan, perusahaan dapat menerapkan Sistem Manajemen Anti Penyuapan (ISO 37001:2016) sebagai seperangkat elemen yang saling berhubungan dan berinteraksi dalam suatu organisasi untuk mengarahkan dan mengendalikan kegiatan organisasi. Ini mencakup penyusunan, penetapan, dan implementasi kebijakan, tujuan, dan proses sebagai langkah-langkah pencegahan penyuapan. Dalam persyaratan tersebut, khususnya pada klausul 7.2.2 (Proses Penerimaan Karyawan), sehubungan dengan risiko penyuapan yang diidentifikasi dalam penilaian risiko penyuapan (merujuk pada klausul 4.5), perusahaan harus menerapkan prosedur yang mencakup Proses Uji Kelayakan (merujuk pada klausul 8.2) yang dilakukan pada individu sebelum mereka dipekerjakan, dan pada personel sebelum dipindahkan atau dipromosikan dalam organisasi. Tujuannya adalah memastikan sejauh mana hal ini dapat diterima dan tepat untuk memastikan bahwa mereka akan mematuhi kebijakan anti penyuapan serta persyaratan sistem manajemen anti penyuapan. Dalam prosesnya, uji kelayakan (due diligence) penerimaan karyawan dalam penerapan Sistem Manajemen Anti Penyuapan (ISO 37001:2016) disesuaikan dengan bisnis dan operasional perusahaan. ISO 37001:2016 tidak mengatur secara rinci poin-poin atau persyaratan yang perlu dilakukan dalam proses uji kelayakan (due diligence), khususnya untuk karyawan baru. Di beberapa perusahaan, penerapan due diligence dapat dilakukan sejak tahap seleksi berkas (administratif) hingga wawancara. Proses uji kelayakan (due diligence) juga dapat melibatkan pengumpulan informasi dari calon karyawan, termasuk pengumpulan data diri, wawancara selama proses seleksi, dan penelusuran informasi dari berbagai sumber seperti media sosial calon karyawan (Instagram, LinkedIn, Facebook, dan lainnya). Contoh Penilaian Uji Kelayakan Penerimaan Karyawan Baru Berikut merupakan beberapa persyaratan yang biasanya dijadikan dasar penilaian dalam uji kelayakan (due diligence) saat proses penerimaan karyawan baru. Tabel 1. Form Due Diligence Penerimaan Karyawan *** Divisi HSE Sentral Sistem Consulting siap melayani Anda untuk memberikan konsultasi lingkungan dan membantu Penyusunan Dokumen Persetujuan Lingkungan, SIMPEL, KLHK, Persetujuan Teknis Lingkungan, PROPER, dan Program Safe and Save (Program Improvement Lingkungan untuk Safe untuk lingkungan dan Save dari pengeluaran biaya lingkungan). Kami juga siap membantu mengadakan in house training di perusahaan Anda tentang SMK 3 PP 50 Tahun 2012, ISO 14001, ISO 45001, dan ISO 37001. Info lebih lanjut hubungi :  WA/Telp: 0821-2121-9252 (Marketing) Email: marketing@sentralsistem.com Instagram: @sentral.sistem LinkedIn: Sentral Sistem Consulting Facebook: Sentral Sistem Consulting  

MEMAHAMI PART VARIATION PADA STATISTICAL PROCESS CONTROL (SPC)

Pada Statistical Process Control (SPC), part variation merujuk pada variasi yang terjadi dalam suku cadang/part selama berlangsungnya proses produksi. SPC adalah metode yang digunakan untuk memantau, mengukur, dan mengendalikan proses produksi dengan tujuan memastikan kualitas produk agar konsisten terhadap spesifikasi produk yang ditetapkan tanpa adanya variasi yang signifikan. Penyebab Terjadinya Variasi Variasi ini dapat terjadi karena berbagai faktor, termasuk perbedaan dalam dimensi, berat, bentuk, atau karakteristik fisik/kimia lainnya dari bagian-bagian yang seharusnya sama. Dalam SPC, part variation dianalisis dan dimonitor dengan menggunakan alat dan teknik statistik, seperti diagram kontrol, histogram, dan analisis data lainnya. Teknik SPC, seperti diagram peta kendali (control charts), memungkinkan pengendalian proses dengan mengidentifikasi pola dan tren yang mungkin menunjukkan kehadiran variasi khusus. Ketika ada petunjuk variasi khusus, tindakan perbaikan atau perbaikan proses perlu dilakukan untuk menghilangkan penyebab munculnya variasi khusus tersebut. Baca juga: PART VARIATION DALAM MEASUREMENT SYSTEM ANALYSIS (MSA) Jenis Variasi Dalam aktivitas produksi, ada beberapa jenis variasi yang umum terjadi: Variasi Umum (Common Cause Variation) Variasi ini merupakan variasi yang disebabkan oleh faktor-faktor internal yang umum dan alami dalam suatu proses. Variasi ini mungkin disebabkan oleh perubahan kecil, fluktuasi bahan baku, suhu, kelembaban, atau perubahan kondisi mesin. Variasi ini dianggap sebagai bagian normal dari proses dan bisa diidentifikasi dan dikelola melalui kontrol rutin. Variasi Khusus (Special Cause Variation) Ini adalah variasi yang disebabkan oleh faktor-faktor yang tidak biasa atau diluar kendali yang muncul dalam suatu proses. Variasi ini mungkin disebabkan oleh kegagalan mesin, gangguan tidak terduga, atau perubahan signifikan dalam bahan baku. Ketika variabilitas ini terjadi, perlu dilakukan investigasi lebih lanjut untuk menentukan penyebabnya dan mengambil tindakan korektif. Pemahaman yang baik tentang perbedaan antara kedua jenis variasi ini penting dalam SPC. Tujuan dari pemahaman variasi tadi adalah untuk mengurangi variasi khusus sebanyak mungkin sambil tetap memahami dan mengelola variasi umum yang dialami dalam proses produksi. Kegunaan SPC Dalam hal identifikasi part variation, SPC dapat digunakan untuk: Mengidentifikasi variasi, yaitu memahami sifat variasi dalam proses produksi dan bagian-bagian yang dihasilkan. Memonitor perubahan, yaitu mengidentifikasi perubahan dalam variasi untuk mengambil tindakan perbaikan jika ada perubahan yang signifikan. Meminimalkan variasi yang tidak dikehendaki, yaitu mengendalikan proses produksi untuk meminimalkan variasi yang tidak diinginkan dan memastikan bahwa suku cadang/produk yang dihasilkan. sesuai dengan standar kualitas yang ditetapkan. Memperbaiki Variasi dalam Proses Manufaktur Untuk meningkatkan atau memperbaiki variasi pada bagian-bagian yang dihasilkan dalam proses manufaktur, ada beberapa langkah yang bisa diambil: Analisis Proses: Identifikasi faktor-faktor yang berkontribusi pada variasi. Cari tahu bagian mana dari proses produksi yang paling rentan terhadap variasi. Gunakan tools seperti diagram sebab-akibat (fishbone diagram) atau analisis Pareto untuk memahami akar penyebab dari variasi yang terjadi. Standardisasi Proses: Tetapkan prosedur standar untuk setiap tahapan produksi, termasuk pengaturan mesin, parameter produksi, dan penggunaan bahan baku yang konsisten. Pastikan bahwa operator memahami dan mengikuti prosedur standar dengan seksama. Pemantauan Proses: Gunakan tools SPC seperti diagram peta kendali untuk memantau variasi dalam proses produksi. Hal ini memungkinkan untuk deteksi dini terhadap variasi yang berada di luar batas yang diterima. Perbaikan Berkelanjutan: Jika variasi khusus terdeteksi, lakukan investigasi lebih lanjut untuk mengidentifikasi penyebabnya. Terapkan perbaikan yang diperlukan untuk menghilangkan atau mengurangi variasi khusus tersebut. SPC membantu produsen untuk memahami, mengelola, dan mengendalikan variabilitas dalam proses produksi untuk mencapai kualitas yang konsisten dan memenuhi standar yang ditetapkan, mengurangi pemborosan, dan meningkatkan efisiensi proses produksi secara keseluruhan. Apakah Bapak/Ibu sudah menggunakan SPC dalam mengendalikan proses produksi? *** Ada pertanyaan seputar implementasi Sistem Manajemen IATF 16949:2016, persiapan sertifikasi, persiapan surveillance, persiapan renewal IATF 16949:2016, atau ingin memerluas scope IATF 16949:2017? Bingung menerapkan Core Tools harus mulai dari mana? Ingin memperbaiki Core Tools supaya benar-benar menjadi teknologi analisis bagi perusahaan Anda? Langsung hubungi Marketing Sentral Sistem Consulting di sini: WA/Telp: 0821-2121-9252 (Marketing) | Email: marketing@sentralsistem.com Instagram: @sentral.sistem | LinkedIn: Sentral Sistem Consulting | Facebook: Sentral Sistem Consulting

Sejarah Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)

Pertama Kali Diakui PBB Saat ini, penerapan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) tidak hanya diterapkan oleh negara-negara maju, tetapi juga telah berkembang dan digunakan oleh negara-negara berkembang. Sejarah AMDAL dimulai ketika perangkat AMDAL diakui oleh PBB melalui Deklarasi Rio pada tahun 1992. Sejumlah pemerintah dan institusi non-pemerintah dari berbagai negara mengajukan masukan dan rekomendasi, namun usaha untuk menyusun dokumen AMDAL belum berhasil diterima semua pihak. KTT Bumi yang terkenal dengan Deklarasi Rio berhasil menyepakati hasil sebuah dokumen yang sangat penting. Walaupun belum mampu memperkuat visi etika lingkungan hidup, namun Deklarasi Rio dipandang berhasil menghubungkan antara lingkungan hidup dan masalah ekonomi dan sosial, seperti kemiskinan, kebijakan perdagangan, pemberdayaan masyarakat, dan lainnya. Awal Perkembangan AMDAL di Negara Maju Di negara maju, AMDAL dikenal sebagai Environmental Impact Assessment atau Environmental Impact Analysis (EIA). AMDAL secara resmi tumbuh dan berkembang sejak tahun 1969, ditandai dengan dikeluarkannya National Environmental Policy Act (NEPA) di Amerika Serikat. NEPA di AS mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 1970. Baca juga: Mengetahui Jenis Usaha dan Kegiatan yang Wajib Memiliki AMDAL Awal Perkembangan AMDAL di Indonesia Di Indonesia, EIA dikenal sebagai AMDAL pada tahun 1974-1979 (Pelita II), yaitu ketika delegasi Indonesia ikut serta dalam Konferensi Stockholm 1972. AMDAL diterapkan secara formal di Indonesia pada tahun 1982 dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1982. Namun, peraturan tersebut belum terlaksana secara luas. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 Pada tahun 1983, koordinasi antar lembaga di Indonesia untuk pelaksanaan AMDAL belum berjalan efektif. Oleh karena itu, dikeluarkanlah Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Tahap ini merupakan tahap pengembangan AMDAL dengan penekanan pada penyederhanaan proses AMDAL, sejalan dengan birokrasi pemerintah saat itu. Pada tahap ini, Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (BAPEDAL) mulai beroperasi dengan baik dan memiliki otoritas penataan AMDAL serta pengawasan kualitas dokumen yang dihasilkan pemrakarsa. Aturan ini juga memperkenalkan studi pendekatan AMDAL, yaitu AMDAL proyek, regional, kawasan, dan terpadu. Dengan pendekatan tersebut, diharapkan proses AMDAL di Indonesia dapat menjadi lebih efektif dan isu-isu mengenai lingkungan dapat diantisipasi. Perbaikan Peraturan pada Tahun 1997 dan 1999 Tahap perbaikan peraturan berlaku pada tahun 1997, ditandai dengan keluarnya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang AMDAL. Tahap ini menekankan prosedur pelaksanaan AMDAL kepada pemerintah daerah dan pendekatan lintas batas. Selain itu, tahap ini juga ditandai dengan pembubaran Komisi Penilai AMDAL di Departemen Sektoral dan Pemusatan Pelaksanaan AMDAL di BAPEDAL. Tahap ini juga memperkenalkan mekanisme pelibatan masyarakat yang lebih intensif dalam proses pengajuan AMDAL. Namun, pada tahun 1999, keluar Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 yang hanya memberikan kewenangan proses AMDAL hingga tingkat provinsi, akibat perubahan kondisi politik di Indonesia. AMDAL Saat Ini Seiring dengan perkembangan teknologi dan jenis usaha di Indonesia, pemerintah Indonesia, terutama Kementerian Lingkungan Hidup, mengeluarkan kembali peraturan mengenai AMDAL, yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Melalui Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), diharapkan adanya penyampaian informasi yang baik tentang dampak lingkungan kepada pemangku kepentingan. AMDAL memiliki peran penting dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Dengan tujuan memberikan perlindungan pada lingkungan hidup agar tetap lestari dan berkelanjutan, AMDAL juga dapat membantu meningkatkan pemrakarsa di Indonesia untuk berupaya mengendalikan usaha dan kegiatan yang berdampak negatif pada lingkungan hidup. *** Divisi Environmental Improvement Sentral Sistem Consulting siap melayani Anda untuk memberikan konsultasi lingkungan dan membantu Penyusunan Dokumen Persetujuan Lingkungan, SIMPEL, KLHK, Persetujuan Teknis Lingkungan, PROPER, dan Program Safe and Save (Program Improvement Lingkungan untuk Safe untuk lingkungan dan Save dari pengeluaran biaya lingkungan) Info lebih lanjut hubungi :  WA/Telp: 0821-2121-9252 (Marketing) Email: marketing@sentralsistem.com Instagram: @sentral.sistem LinkedIn: Sentral Sistem Consulting Facebook: Sentral Sistem Consulting

Sistem Manajemen Lingkungan (ISO 14001:2015) dalam Penilaian PROPER Hijau, Ini Persyaratannya!

Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan Dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup (PROPER) merupakan salah satu instrumen pengelolaan lingkungan hidup yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Ini dilakukan dengan melakukan penilaian kinerja lingkungan terhadap pemenuhan perusahaan terhadap standar lingkungan. Penilaian PROPER dilakukan khusus untuk perusahaan yang ditunjuk atau perusahaan yang memiliki dampak besar terhadap lingkungan hidup. Kriteria PROPER Kriteria PROPER berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. 1 Tahun 2021 tentang Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan Dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup. Salah satu aspek penilaian PROPER Hijau yaitu penerapan Sistem Manajemen Lingkungan (ISO 14001:2015). Penerapan Sistem Manajemen Lingkungan yang dipersyaratkan dalam PROPER Hijau mengacu pada konsep PDCA (Planning, Do, Check & Action). Baca juga: Apa Itu PROPER? Mengapa Harus PROPER? Persyaratan PROPER Hijau Berikut merupakan persyaratan yang perlu dipenuhi untuk mendapatkan nilai maksimal dalam PROPER Hijau, diantaranya: Kebijakan Lingkungan Perencanaan Aspek Lingkungan Pemenuhan Peraturan Tujuan dan Sasaran Program Manajemen Lingkungan Implementasi Struktur dan tanggung jawab Pelatihan, kesadaran dan kompetensi Komunikasi Dokumentasi SML Kontrol Dokumen Kontrol Operasional Tanggap Darurat Upaya Pengecekan dan Perbaikan Pemantauan dan Pengukuran Lingkungan Ketidaksesuaian, Upaya Perbaikan, dan Pencegahan Catatan Audit Internal Tinjauan (Review) oleh Manajer Rentang Pengaruh Sertifikasi *** Divisi Environmental Improvement Sentral Sistem Consulting siap melayani Anda untuk memberikan konsultasi lingkungan dan membantu Penyusunan Dokumen Persetujuan Lingkungan, SIMPEL, KLHK, Persetujuan Teknis Lingkungan, PROPER, dan Program Safe and Save (Program Improvement Lingkungan untuk Safe untuk lingkungan dan Save dari pengeluaran biaya lingkungan) Info lebih lanjut hubungi :  WA/Telp: 0821-2121-9252 (Marketing) Email: marketing@sentralsistem.com Instagram: @sentral.sistem LinkedIn: Sentral Sistem Consulting Facebook: Sentral Sistem Consulting

Memahami Number of Distinct Categories (NDC) dan Manfaatnya

Dalam penggunaan core tools, kita akan menemukan poin Number of Distinct Categories. Apa sih sebenarnya Number of Distinct Categories itu? Pengertian Number of Distinct Categories Dalam Statistical Process Control (SPC), NDC dapat merujuk pada jumlah kategori yang berbeda dalam suatu himpunan data ketika menggunakan teknik kontrol statistik untuk memonitor dan mengendalikan proses produksi.  Pada dasarnya, ketika kita mengumpulkan data dalam pengendalian proses statistik, kita dapat membaginya ke dalam beberapa kategori atau kelompok yang berbeda berdasarkan karakteristik tertentu. Jumlah kategori atau kelompok unik ini disebut sebagai Number of Distinct Categories. Contoh Number of Distinct Categories Contoh sederhana dapat digambarkan ketika kita mengukur ketebalan suatu produk setiap jam selama sebulan. Dari pengukuran ini hasilnya dikelompokkan menjadi tiga kategori, misalnya: "kurang dari 2 mm", "antara 2 mm dan 5 mm", dan "lebih dari 5 mm", maka kita memiliki tiga Number of Distinct Categories untuk data ketebalan produk. Penting untuk memahami kategori-kategori ini karena dapat memberikan wawasan tentang variasi yang terjadi dalam proses produksi. Pemantauan jumlah kategori yang berbeda atau perubahan dalam kategori-kategori tersebut dapat membantu dalam identifikasi masalah atau perubahan dalam proses produksi yang mungkin memerlukan perhatian atau tindakan korektif. Selain itu, informasi ini juga dapat digunakan sebagai bagian dari analisis statistik yang lebih luas dalam mengelola dan meningkatkan proses produksi. Selama sebulan, kita mengumpulkan data setiap hari dan membaginya ke dalam kategori-kategori ini. Berikut adalah contoh data: Hari 1 : 1.3 mm Hari 2 : 3.5 mm Hari 3 : 1.7 mm Hari 4 : 5.3 mm Hari 5 : 5.4 mm Jika kita melihat data tersebut, kita bisa mendapatkan Number of Distinct Categories sebagai berikut: Dalam hal ini, Number of Distinct Categories adalah 3. Ada tiga kategori yang berbeda untuk ketebalan produk yang dihasilkan oleh lini produksi selama periode waktu tertentu. Hal ini memberikan pemahaman yang lebih baik tentang variasi dalam ketebalan produk dan dapat digunakan dalam pengendalian proses statistik untuk memastikan bahwa produk memenuhi spesifikasi yang ditetapkan. Manfaat Memahami Number of Distinct Categories Memahami Number of Distinct Categories memiliki beberapa manfaat signifikan dalam berbagai konteks, terutama dalam analisis data, pengendalian proses, dan pengembangan produk. Beberapa alasan utama mengapa penting untuk memahami jumlah kategori yang berbeda adalah: Pemahaman Variasi: Number of Distinct Categories dapat membantu dalam mengidentifikasi dan memahami variasi dalam data. Hal ini sangat penting dalam pengendalian proses dan analisis data untuk menentukan seberapa konsisten suatu produk atau proses dalam memenuhi spesifikasi yang ditetapkan. Pengendalian Kualitas: Dalam pengendalian kualitas, memahami jumlah kategori yang berbeda dapat membantu dalam menetapkan batasan kontrol dan menilai apakah suatu produk atau proses berada dalam batas yang dapat diterima dari segi kualitas. Identifikasi Karakteristik Kritis: Memahami jumlah kategori dapat membantu dalam mengidentifikasi karakteristik kritis yang harus dipantau dan dikendalikan untuk memastikan bahwa produk atau proses mencapai standar kualitas yang diinginkan. Berdasarkan standar AIAG IATF, Number of Distinct Categories (NDC) harus lebih besar dari 4. Jika NDC lebih besar dari 4, maka dapat dikatakan bahwa variasi data yang ada sudah valid. Secara keseluruhan, pemahaman Number of Distinct Categories (NDC) dapat membantu organisasi untuk membuat keputusan yang lebih informatif, mengelola risiko, meningkatkan kualitas produk, dan menyusun strategi yang lebih efektif dalam berbagai konteks bisnis.