Penulis: Imanuel Iman

Dalam Sistem Keamanan Informasi, kita mengenal 3 istilah penting yang disingkat sebagai CIA (Confidentiality, Integrity, dan Availability), yang merujuk pada kerahasiaan, integritas data (data yang dapat dipercaya), dan ketersediaan data. Untuk menjaga ketiga hal tersebut, maka perusahaan perlu mengatur hak akses dari user dalam menggunakan program. Pengaturan hak akses bisa dikelompokkan menggunakan kategori CRUD (Create, Read, Update, Delete). Tujuan akhirnya tentu saja adalah untuk menjaga CIA dari sistem keamanan informasi.
Saat ini, semua perusahaan menggunakan aplikasi dalam bekerja. Untuk mendapatkan informasi, karyawan atau manajemen perlu memiliki hak akses agar dapat melihat informasi yang diperlukan. Namun, hak akses juga perlu dibatasi untuk menjaga kerahasiaan informasi. Sebagai contoh sederhana, karyawan tidak dapat melihat informasi gaji yang dimasukkan ke dalam program payroll. Pembatasan hak akses read pada CRUD berperan dalam menjaga kerahasiaan data (confidentiality).
Untuk menjaga integritas data, diperlukan pengaturan personal yang memiliki wewenang untuk kategori create, update, dan delete dalam CRUD.
a. Ada petugas yang melakukan create (input) hasil ke dalam program.
b. Ada juga petugas QC yang memeriksa keabsahan data dan melakukan update (revisi), jika ditemukan kesalahan.
c. Untuk menjaga conflict of interest, SOP bisa mengatur pemisahan tanggung jawab antara yang melakukan create (input) vs yang melakukan update (pemeriksaan). Ini bertujuan untuk memastikan integritas data terjaga (I dalam CIA).
2. Setelah data diinput dan diperiksa, maka personal berikutnya hanya diberi kewenangan untuk membaca saja. Jika personal berikutnya diberi akses untuk merubah (update) data, maka integritas (I dalam CIA) data bisa menjadi bermasalah.
a. SOP juga bisa mengatur jika ditemukan data bermasalah, maka harus dibuatkan berita acara, untuk kemudian di-cross-check terhadap data asli dan personal yang melakukan input dan verifikasi data. Pengecekan perlu dilakukan untuk tindakan perbaikan agar masalah tidak terulang.
b. SOP juga harus mengatur siapa yang memiliki wewenang untuk melakukan update (perbaikan) data di tingkatan atas.
3. Untuk menjaga integritas data dan menjaga kehilangan data, sistem juga perlu mengatur personal yang memiliki kewenangan untuk melakukan penghapusan data, delete. Untuk penghapusan data, sebaiknya dibuat berita acara untuk keperluan penelusuran saat terjadi masalah.
Baca juga: PENTINGNYA ANALISIS DATA AKTUAL DALAM BISNIS
Untuk melengkapi SOP di atas, sistem juga perlu mengatur:
Dengan menerapkan pengaturan CRUD (Create, Read, Update, Delete) yang tepat, mengelola integritas data dengan cermat, dan mematuhi SOP yang telah ditetapkan, kita dapat melindungi kerahasiaan, integritas, dan ketersediaan informasi yang sangat berharga. Mari kita improve dan jaga keamanan data kita agar tetap aman dan terlindungi dari ancaman cyber.
Semoga Artikel ini bermanfaat, untuk meningkatkan kinerja perusahaan terkait keamanan informasi.
Salam Improvement.
There is Always Room for Improvement!
***
Ada pertanyaan seputar implementasi ISO 27001: Sistem Manajemen Keamanan Informasi dan persiapan sertifikasi? Bingung menerapkan ISO 27001 harus mulai dari mana? Langsung hubungi Marketing Sentral Sistem Consulting di sini:
WA/Telp: 0821-2121-9252 (Marketing) | Email: marketing@sentralsistem.com
Instagram: @sentral.sistem | LinkedIn: Sentral Sistem Consulting | Facebook: Sentral Sistem Consulting
What did you think of this post?