Penulis: Imanuel Iman
.png)
Custom ERP dimulai dengan membangun bisnis proses, di mana analisis bisnis harus terlebih dahulu memahami bisnis proses perusahaan. Pada saat membangun bisnis proses, sebaiknya perusahaan juga melakukan Business Process Re-Engineering untuk memperbaiki proses existing yang ada saat ini agar menjadi lebih efisien dan ramping. Tujuan akhirnya adalah perusahaan mendapatkan ERP dan proses bisnis yang lebih efisien.
1. Resistansi Terhadap Perubahan
Disadari atau tidak, orang yang sudah terbiasa menggunakan cara yang sudah biasa dilakukan bertahun-tahun seringkali merasa kurang nyaman dengan cara baru. Resistansi yang muncul seringkali disertai argumen: "di sini beda", "sistem yang lama biasanya seperti ini dan tidak masalah", dan berbagai argumentasi lain yang bersifat general.
2. Berpikir Lokal
Seringkali seseorang hanya terfokus pada cara yang efisien untuk dirinya sendiri atau departemennya. Namun, efisien bagi dirinya dan departemennya belum tentu efisien bagi perusahaan secara keseluruhan. Misalnya: "Saya bisa revisi SO dong, kalau orang salah input bagaimana?". Perlu dipahami bahwa sistem ERP adalah sistem yang terintegrasi; perubahan di satu proses akan mempengaruhi proses lainnya. Jika SO diubah, bagaimana jika produk sudah dibuat atau produk sudah dikirim? Itulah sebabnya sistem diproteksi dengan sengaja, supaya sales tidak bisa merubah SO. Ada jalur khusus cancellation SO yang hanya bisa dilakukan oleh personal yang berwenang. Beberapa orang jadi merasa seperti tidak fleksibel/merepotkan.
3. Bentrok Metode
Seringkali seseorang yang sudah berpengalaman merasa caranya adalah yang terbaik. Kondisi ini seringkali menjadi dilema: mengikuti mau user atau berjuang untuk hasil yang lebih baik.
Baca juga: Peran CRUD (Create, Read, Update, Delete) dalam Menjaga Keamanan Informasi
Berbeda dengan Custom ERP, ERP Standar sudah memiliki bisnis proses versi ERP itu sendiri, sehingga perusahaan mau tidak mau harus mengikuti alur proses bisnis ERP Standar. Kondisi ini sering menjadi dilema, terutama saat bisnis proses perusahaan itu unik sehingga tidak cocok dengan bisnis proses ERP Standar. Kondisi ini seringkali berdampak pada:
Menggunakan Custom ERP bisa menjadi lebih optimal, apalagi jika dilakukan bersamaan dengan Business Process Re-Engineering. Perusahaan akan menjadi lebih efisien dan semua proses bisa 100% terdigitalisasi. Namun, prosesnya lama dan seringkali berbenturan dengan keinginan banyak orang yang berbeda. Perancangan bisnis proses yang tidak akurat juga akan mengakibatkan kegagalan ERP atau ERP yang tidak user-friendly, serta ERP yang tidak efisien.
Menggunakan ERP Standar seringkali dirasakan lebih menjamin karena program sudah digunakan di banyak perusahaan. Namun, perusahaan harus siap-siap menerima kondisi apa adanya, yaitu perusahaan mengikuti bisnis proses ERP Standar. Di sisi lain, perusahaan seringkali perlu melakukan proses tambahan di luar program untuk mengakomodir proses unik di perusahaan yang tidak tersedia dalam program.
Baik Custom ERP maupun Standard ERP memerlukan bisnis proses yang baik. Kunci keberhasilan penerapan program sangat tergantung pada bisnis proses yang mengatur alur program. Kegagalan memahami bisnis proses akan berdampak pada kegagalan dalam penerapan ERP.
Semoga artikel ini bermanfaat untuk memberikan wawasan mengenai perbedaan Custom ERP dan Standard ERP.
Salam Improvement
There is Always Room for Improvement
***
Ada pertanyaan seputar implementasi ISO 27001: Sistem Manajemen Keamanan Informasi dan persiapan sertifikasi? Bingung menerapkan ISO 27001 harus mulai dari mana? Langsung hubungi Marketing Sentral Sistem Consulting di sini:
WA/Telp: 0821-2121-9252 (Marketing) | Email: marketing@sentralsistem.com
Instagram: @sentral.sistem | LinkedIn: Sentral Sistem Consulting | Facebook: Sentral Sistem Consulting
What did you think of this post?