Penulis: Tri Amdani Kumbasari, S.KM
Apakah perusahaan Anda sedang mendapat permintaan dari pelanggan (customer) untuk segera menghitung emisi karbon? Jika ya, maka artikel ini tepat untuk membantu Anda memahami mengapa perhitungan karbon penting, alasan pelanggan semakin peduli terhadap isu ini, serta bagaimana cara menghitungnya dengan benar.
Menghitung jejak karbon (carbon footprint) merupakan langkah penting bagi perusahaan yang berkomitmen menuju industri rendah karbon. Tanpa mengetahui besarnya emisi yang dihasilkan, perusahaan mustahil menetapkan target pengurangan yang realistis. Melalui carbon accounting, perusahaan dapat menghitung tingkat emisi karbon dioksida (CO?) yang dihasilkan dari aktivitas operasionalnya, mengelolanya secara sistematis, serta menemukan alternatif solusi untuk menurunkan emisi tersebut. Carbon accounting menjadi langkah awal proses dekarbonisasi dalam mencapai target net zero emission (NZE).
Banyak customer, terutama dari pasar global, kini menuntut pemasok untuk melaporkan jejak karbon mereka. Tujuannya adalah memastikan bahwa produk yang dibeli berasal dari proses yang ramah lingkungan. Pemasok yang tidak mampu menunjukkan data jejak karbon sering kali dianggap kurang berkomitmen terhadap keberlanjutan (Environmental, Social, and Governance / ESG) dan berisiko kehilangan peluang bisnis. Selain untuk memenuhi permintaan customer, perusahaan yang transparan dalam pelaporan jejak karbon juga berpeluang meningkatkan reputasi dan kepercayaan publik. Transparansi tersebut mencerminkan tanggung jawab lingkungan yang tinggi serta memberikan nilai tambah di mata investor.
Apa itu Carbon Accounting?
Carbon accounting merupakan proses mencatat, menghitung, mengelola, dan mengurangi emisi karbon yang dihasilkan dari aktivitas perusahaan. Sederhananya, melalui carbon accounting kita dapat mengetahui dari mana emisi muncul, berapa jumlahnya, dan bagaimana cara menguranginya. Sebagai contoh, ketika perusahaan mengoperasikan genset berbahan bakar solar, tentu akan timbul emisi karbon dari proses tersebut. Melalui carbon accounting, perusahaan mencatat sumber emisi tersebut, menghitung total emisi yang dihasilkan, lalu menganalisis hasilnya untuk menetapkan program penurunan emisi yang tepat.
Dengan melakukan Carbon accounting, Anda dapat :
Lalu bagaimana cara melakukan Carbon Accounting?
Anda harus menentukan tujuan dari menghitung karbon, misalnya untuk pemenuhan regulasi, tuntutan customer, mencapai net zero emission, efisiensi energi. Kemudian tetapkan batasan sejauh mana emisi dihitung, misal pada lingkup organisasi termasuk lingkup anak perusahaan, joint venture, atau lainnya; dan lingkup operasional misalnya hanya melakukan perhitungan emisi scope 1 dan scope 2 pada tahap awal.
Langkah kedua yaitu dengan melakukan identifikasi sumber-sumber emisi, sumber ini dibagi menjadi tiga lingkup, yaitu:
Emisi scope 1 merupakan emisi langsung yang timbul dari aktivitas perusahaan dan dapat dikendalikan langsung, misalnya fasilitas dan kendaraan milik perusahaan. Jumlah emisi Lingkup 1 dapat bervariasi tergantung jumlah dan jenis bahan bakar yang digunakan. Contohnya emisi dari boiler, furnace, genset, kendaraan operasional dan forklift yang menggunakan bahan bakar.
Emisi scope 2 merupakan emisi yang timbul secara tidak langsung, emisi ini berasal dari energi yang dibeli oleh perusahaan namun diproduksi oleh pihak ketiga. Contohnya pembelian sumber energi listrik, industri aluminium dan semen.
Emisi scope 3 mencakup emisi tidak langsung lainnya, emisi ini tidak dihasilkan dari aktivitas perusahaan dan merupakan proses yang tidak dapat dikendalikan, contohnya perjalanan bisnis menggunakan transportasi umum, pengadaan barang dan jasa, distribusi supplier dan customer.
Penilaian scope 1, scope 2, dan scope 3 jika digabungkan akan memberikan total emisi gas rumah kaca Perusahaan atau yang disebut carbon footprint.
Langkah ketiga yaitu dengan menghitung emisi dari masing-masing scope. Anda dapat menggunakan kalkulator jejak karbon atau dengan perhitungan manual sesuai dengan metodologi yang ditetapkan. Hal yang perlu diperhatikan dalam menghitung karbon secara manual adalah Anda harus mengetahui :
Setelah mengetahui total emisi karbon, selanjutnya Anda melakukan analisa terhadap hasil emisi tersebut, kemudian mengidentifikasi peluang yang dapat diterapkan dalam produk, layanan, dan proses untuk mengurangi emisi. Misalnya menganalisa titik boros energi yang menjadi sumber pembengkakan biaya operasional kemudian mengganti dengan teknologi yang lebih efisien.
Carbon accounting menjadi dasar dalam penetapan target net zero emission di perusahaan. Indonesia sendiri telah menargetkan pencapaian net zero emission pada tahun 2060. Untuk mencapai target tersebut, diperlukan SBTi (Science Based Targets initiative) sebagai langkah strategi menuju net zero emission.
Baca juga SBTi: Langkah Strategis Menuju Net Zero Emission.
Divisi HSE (Health, Safety, Environment) Sentral Sistem Consulting Siap mendampingi perusahaan Anda dalam meningkatkan kinerja lingkungan melalui layanan konsultasi yang komprehensif. Kami melayani penyusunan Dokumen Persetujuan Lingkungan, pengurusan SIMPEL, KLHK, serta Persetujuan Teknis Lingkungan. Kami juga membantu perusahaan dalam pelaporan dan strategi peningkatan PROPER, serta menyediakan Program Safe and Save program unggulan kami untuk mendorong lingkungan yang lebih aman sekaligus efisiensi biaya pengelolaan lingkungan Anda.
Info lebih lanjut hubungi:
WA/Telp: 0821-2121-9252
Email: info@sentralsistem.com
Instagram: @sentral.sistem
Linkedln: Sentral Sistem Consulting
Facebook: Sentral Sistem Consulting
Youtube: @SentralSistem
What did you think of this post?