Penulis: M Rizky Yudhaprasetyo
British Standard BS 31100 menetapkan prinsip-prinsip manajemen risiko yang sejalan dengan standar internasional ISO 31000, yang juga mencakup daftar rinci mengenai prinsip-prinsip yang direkomendasikan dalam penerapan manajemen risiko.
Manajemen risiko yang efektif seharusnya:
Sementara itu, AS/NZS 4360:2004 menyebutkan bahwa manajemen risiko beroperasi berdasarkan seperangkat prinsip yang dilengkapi dengan sejumlah definisi penting. Standar ini juga menegaskan bahwa proses manajemen risiko terdiri dari beberapa tahapan utama, yaitu identifikasi, analisis, dan pengendalian risiko.

Pada tahap ini dilakukan proses identifikasi terhadap risiko-risiko yang akan dikelola. Identifikasi harus mencakup semua potensi risiko, baik yang berasal dari lingkungan internal maupun eksternal organisasi. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam tahap identifikasi risiko meliputi:
Pendekatan yang digunakan dalam proses identifikasi risiko dapat beragam, di antaranya: checklist, penilaian berbasis pengalaman dan pencatatan, flow chart, brainstorming, analisis sistem, analisis skenario, serta teknik sistem rekayasa. Metode identifikasi ini merupakan teknik yang dikembangkan untuk mengenali dan mengevaluasi berbagai potensi bahaya yang terdapat dalam proses kerja. Beberapa metode yang umum digunakan dalam kegiatan industri antara lain sebagai berikut (Kolluru, 1996):
Metode ini dilakukan melalui brainstorming untuk menyusun daftar pertanyaan terkait potensi kejadian yang dapat menimbulkan konsekuensi tidak diinginkan. Pertanyaan dikelompokkan ke dalam aspek operasi, teknik, pemeliharaan, dan inspeksi. Setiap pertanyaan mencakup skenario insiden, identifikasi konsekuensi, penilaian kualitatif terhadap tingkat keparahan dan probabilitas, serta rekomendasi pengendalian risiko. Metode ini paling efektif bila dilakukan oleh tim yang berpengalaman.
HAZOPS merupakan metode analisis terstruktur yang berfokus pada identifikasi penyimpangan dari kondisi operasi normal. Metode ini menilai bagaimana penyimpangan dapat terjadi, dampaknya terhadap keselamatan, efisiensi produksi, dan perbaikan yang diperlukan untuk meminimalkan risiko.
FMEA digunakan untuk mengidentifikasi mode kegagalan potensial dari peralatan atau komponen, serta mengevaluasi dampaknya terhadap sistem secara keseluruhan. Kelemahan metode ini adalah tidak mempertimbangkan kesalahan manusia, karena fokus utamanya pada penyimpangan teknis dan konsekuensinya.
FTA menganalisis penyebab terjadinya suatu insiden melalui pendekatan deduktif. Analisis dimulai dari kejadian yang tidak diinginkan (top event), kemudian ditelusuri hingga akar penyebabnya. Metode ini memungkinkan penilaian kuantitatif terhadap probabilitas kecelakaan, serta menunjukkan bahwa kerugian sering kali merupakan hasil kombinasi beberapa kegagalan, bukan akibat satu faktor tunggal.
5. Event Tree Analysis (ETA)
ETA digunakan untuk mengevaluasi berbagai kemungkinan konsekuensi setelah sebuah kejadian pemicu (initiating event). Analisis ini menilai efektivitas sistem keselamatan atau prosedur darurat yang telah tersedia, serta mengidentifikasi langkah-langkah mitigasi yang dapat mengurangi dampak insiden.
JHA berfokus pada identifikasi bahaya yang terkait dengan setiap tahapan pekerjaan. Analisis ini mempertimbangkan interaksi antara pekerja, tugas, peralatan, dan lingkungan kerja. Setelah bahaya teridentifikasi, dilakukan langkah-langkah eliminasi atau pengendalian risiko hingga mencapai tingkat yang dapat diterima (OSHA 3071).
Menurut AS/NZS 4360:2004, analisis risiko merupakan proses sistematis untuk mengevaluasi konsekuensi (severity) dan tingkat kemungkinan (likelihood) dari suatu kejadian. Tujuan utama analisis ini adalah untuk membedakan antara risiko minor yang dapat diterima (acceptable risk) dengan risiko mayor yang memerlukan pengendalian lebih lanjut.
Tingkat kedalaman analisis risiko dapat bervariasi tergantung pada tujuan, ketersediaan informasi, data, serta sumber daya. Bentuk analisis dapat berupa kualitatif, semi-kuantitatif, kuantitatif, atau kombinasi dari ketiganya. Secara umum, kompleksitas dan biaya analisis meningkat seiring pergeseran dari pendekatan kualitatif ke kuantitatif.
A. Analisis Kualitatif
Analisis kualitatif merupakan metode yang paling umum digunakan karena relatif cepat, sederhana, dan memiliki cakupan luas. Metode ini memungkinkan identifikasi konsekuensi (consequence) dan kemungkinan (likelihood) secara umum serta penyusunan peringkat risiko melalui risk matrix.
Dalam teknik ini, risiko dikategorikan menggunakan istilah deskriptif baik untuk konsekuensi maupun kemungkinan. Sebagai contoh, AS/NZS 4360 mengklasifikasikan konsekuensi menjadi:
Sementara itu, tingkat kemungkinan dibagi menjadi:
Kombinasi kedua kategori tersebut digunakan untuk membentuk matriks risiko, yang berfungsi sebagai dasar dalam memprioritaskan tindakan pengendalian.

Analisis kualitatif memiliki keterbatasan jika dibandingkan dengan analisis risiko yang bersifat kuantitatif. Analisis risiko kualitatif kadang tidak tepat, sulit dibandingkan dengan kejadian umum, penilaian konsekuensi dan kemungkinan yang cenderung sangat subjektif membuat sulit untuk dikomunikasikan dengan stakeholders. Hasil dari analisis kualitatif juga sulit dijadikan pertimbangan dalam bisnis (Commonwealth of Australia,2004).
B. Analisis Semi Kuantitatif
Pendekatan semi-kuantitatif dalam analisis risiko saat ini banyak digunakan untuk mengatasi keterbatasan yang terdapat pada analisis risiko kualitatif. Metode ini memberikan gambaran risiko yang lebih rinci dalam menentukan prioritas risiko dibandingkan dengan pendekatan kualitatif. Analisis ini memungkinkan dilakukannya perkalian antara tingkat frekuensi dan nilai numerik dari konsekuensi, sehingga dapat diperoleh kombinasi yang lebih objektif.
Dalam matriks analisis risiko semi-kuantitatif, baik kemungkinan (likelihood) maupun konsekuensi (consequence) diberikan tingkatan numerik yang kemudian dikalikan (multiplied) untuk menentukan tingkat risiko secara kuantitatif.
Sebagai contoh, dalam model matriks risiko:

Kelebihan dari pendekatan ini adalah tingkat risiko dapat diketahui secara lebih terukur melalui nilai numerik yang dihasilkan. Namun demikian, metode ini memiliki kelemahan yang cukup signifikan, yaitu nilai numerik risiko tidak selalu mencerminkan tingkat risiko yang sebenarnya, karena dapat terjadi ketidaksesuaian antara besarnya kemungkinan (likelihood) dan konsekuensi (consequence) yang disusun dalam matriks.
Dalam banyak kasus, pendekatan semi-kuantitatif kemudian dikembangkan lebih lanjut untuk mengatasi keterbatasan tersebut. Pengembangan ini menggunakan nilai kemungkinan dan konsekuensi yang lebih proporsional, sehingga dapat mewakili besaran relatif risiko dengan lebih realistis—meskipun hasilnya belum bersifat absolut terhadap kondisi risiko yang sesungguhnya.
Gambar di bawah ini memperlihatkan ilustrasi nilai risiko yang lebih akurat dalam menggambarkan hubungan antara tingkat kemungkinan dan konsekuensi, serta memberikan perbandingan yang lebih nyata di setiap kelas risikonya (Commonwealth of Australia, 2004).

Analisis semi-kuantitatif menggunakan pendekatan perhitungan dengan mengalikan nilai kemungkinan (likelihood) dan konsekuensi (consequence). Sebagai contoh, suatu kejadian dengan kemungkinan 0,01 dan konsekuensi 1.000 akan menghasilkan nilai risiko sebesar 10. Tingkat risiko yang sama juga dapat diperoleh dari kombinasi lain, misalnya kemungkinan 0,1 dan konsekuensi 100 (Commonwealth of Australia, 2004).
Metode ini bersifat cepat, mudah digunakan, dan memberikan kejelasan dalam proses identifikasi risiko. Selain itu, hasil analisis dapat dibandingkan antar-kejadian, sehingga bermanfaat dalam evaluasi risiko yang lebih komprehensif. Dibandingkan dengan analisis kuantitatif, metode semi-kuantitatif dianggap lebih stabil dalam menilai konsekuensi, karena tidak sepenuhnya bergantung pada nilai moneter. Namun demikian, keterbatasannya terletak pada ketidakmampuannya untuk secara akurat menilai risiko yang berdampak terhadap lingkungan (environmental impact).
C. Analisis Kuantitatif
Analisis kuantitatif menilai risiko secara spesifik dan terukur dengan menggunakan data numerik, berbeda dengan pendekatan deskriptif pada analisis kualitatif dan semi-kuantitatif. Kualitas hasil analisis sangat bergantung pada akurasi data, kelengkapan informasi numerik, serta validitas model yang digunakan.
Dalam pendekatan ini, kemungkinan (likelihood) biasanya dinyatakan dalam bentuk frekuensi kejadian, seperti jumlah kejadian per tahun atau probabilitas terjadinya suatu insiden (misalnya 1:17). Sementara itu, konsekuensi (consequence) diukur sesuai dengan konteks penerapan, misalnya jumlah korban jiwa pada analisis teknis bendungan atau nilai kerugian finansial pada evaluasi ekonomi (Commonwealth of Australia, 2004).
Rekomendasi Artikel Lainnya:
Divisi HSE (Health, Safety, Environment) Sentral Sistem Consulting Siap mendampingi perusahaan Anda dalam meningkatkan kinerja lingkungan melalui layanan konsultasi yang komprehensif. Kami melayani penyusunan Dokumen Persetujuan Lingkungan, pengurusan SIMPEL, KLHK, serta Persetujuan Teknis Lingkungan. Kami juga membantu perusahaan dalam pelaporan dan strategi peningkatan PROPER, serta menyediakan Program Safe and Save program unggulan kami untuk mendorong lingkungan yang lebih aman sekaligus efisiensi biaya pengelolaan lingkungan Anda.
Info lebih lanjut hubungi:
WA/Telp: 0821-2121-9252
Email: info@sentralsistem.com
Instagram: @sentral.sistem
Linkedln: Sentral Sistem Consulting
Facebook: Sentral Sistem Consulting
Youtube: @SentralSistem
What did you think of this post?