Penulis: Marketing Sentral Sistem Consulting
By Imanuel Iman

Hal terpenting dalam memahami suatu ilmu, adalah memahami konsep dasar dari ilmu tersebut. Memahami dengan bahasa yang sederhana, mudah dipahami dan fokus pada why (reason behind) atau fokus manfaat dari ilmu tersebut. Dengan cara ini, kita bisa menggunakan ilmu tersebut tepat sasaran, sesuai kebutuhan. Berikut ini penjelasan singkat mengenai perbedaan fokus ilmu dan manfaat dari masing-masing ilmu; operational excellence, risk management dan business continuity.
Operational excellence adalah Bagaimana operasional bisa berjalan tanpa masalah dan beroperasi dengan efisien. Cara melihatnya simple saja: jika keseharian masih banyak masalah, ketika waktu kita banyak tersita untuk menyelesaikan masalah, ketika proses dirasakan tidak efisien, biaya proses terlalu tinggi, ini artinya kita perlu menerapkan operasional Excellence.
Fokus operasional Excellence adalah menciptakan sistem berbasis pencegahan dan operasional yang efisien atau bahasa kerennya menciptakan operasional yang lean (ramping).
Terkadang Perusahaan harus fokus di operasional Excellence terlebih dahulu, supaya Perusahaan menjadi lebih sehat. Dengan lebih sehat, energi yang dulu banyak terbuang untuk membereskan masalah (mengobati penyakit) bisa di alihkan ke energi yang lebih produktif. Konsep sederhananya, sehat dulu baru bisa ikut bertanding dalam kompetisi.
Bagaimana perusahaan bisa melihat potensi masalah atau peluang di masa depan. Kemudian membuat langkah persiapan untuk menghadapi potensi masalah atau menangkap potensi peluang. Untuk memudahkan pemahaman, menguatkan konsep tentang Risk Management, Saya sering meringkas risk management dengan istilah “how to survive Future”. Jadi, perusahaan tidak boleh hanya fokus untuk hidup hari ini, tapi harus pula memikirkan masa depan.
Hanya fokus pada operasional excellence, akan membuat perusahaan bertahan saat ini, tapi sulit bertahan di masa depan karena ketidaksiapan Perusahaan dalam menghadapi perubahan di masa depan.
Berbicara tentang risk management, beberapa perusahaan menerapkannya secara kurang tepat, karena melakukan analisa risiko terhadap masalah yang sudah terjadi. Jika masalah sudah terjadi, ilmu yang lebih tepat adalah problem solving, analisa masalah untuk mencari penyebab sakit atau penyebab masalah.
Risk management juga kurang tepat digunakan untuk menganalisa masalah yang pernah terjadi. Permasalahan yang terulang lebih disebabkan oleh Analisa yang kurang baik, analisa yang hanya sekedar memadamkan api, tanpa mengatasi penyebab kebakarannya. Dalam konteks PDCA, Risk management berperan dalam proses PLAN. Sedangkan mengatasi masalah adalah bagian dari ACTION.
Saya suka menyederhanakan business continuity seperti “konsep disaster management”, tapi bukan dalam kerangka management tata kelola saat terjadi bencana, namun dalam kerangka “siap menghadapi bencana”.
Jika kita siap, maka kita bisa melakukan speed recovery, meminimalkan dampak negatif dari bencana. Bencana hanya membuat Perusahaan sakit sedikit, tapi masih sanggup untuk bangkit. Bencana yang berkelanjutan, berlarut-larut akan membuat perusahaan mati karena beberapa hal, seperti ditinggalkan pelanggan yang tidak sabar hingga pindah ke lain hati, dana habis untuk biaya recovery, dan banyak hal lainnya. Oleh karena itu Perusahaan harus memiliki kesiapan untuk bisa mengatasi bencana dalam waktu yang cepat, supaya sakitnya masih bisa disembuhkan.
Contoh konkret penerapan business continuity yang sukses adalah negara Jepang. Jepang terkenal dengan kecepatannya dalam menangani bencana, sehingga bisa menekan dampak bencana pada level yang minimal. Jepang bisa melakukan ini bukan karena canggihnya penganan saat terjadi bencana, tapi lebih dikarenakan canggihnya kesiapan dalam menangani bencana. Baik kesiapan infrastruktur, sistem maupun manusianya.
Pola pikir dalam menyusun business continuity adalah: bencana tersebut terjadi dan kita memiliki sistem untuk speed recovery dengan target limit yang sudah di tentukan, tujuannya supaya Perusahaan tidak mengalami guncangan berat yang bisa membuat perusahaan mati. Ilmu ini seperti menciptakan resilient (ketahanan) perusahaan terhadap berbagai potensi bencana yang mengancam kelangsungan hidup perusahaan.
Masing-masing ilmu memiliki fokus yang berbeda
Salam Improvement
There is always room for improvement
Imanuel Iman
Baca Juga artikel menarik lainnya!
Sentral Sistem merupakan Konsultan Strategi Manajemen yang fokus pada Peningkatan Kinerja Perusahaan, yakni Kinerja Bisnis, Mutu, Produktivitas, Kesehatan Keselamatan Kerja (K3) dan Lingkungan. Servis lainnya berupa konsultasi dan training ISO 9001, ISO 14001, OHSAS 18001, IATF 16949, ISO 17025, ISO 13485, ISO 27001, ISO 50001, ISO 22000, GMP, AS 9100, AS 9120, dll. Hubungi kami di sini atau telepon 021-29067201-3.
Mendapat manfaat dari artikel ini? Klik like & share
What did you think of this post?